Rabu, 14 Januari 2009

Beban Sebuah Kampak

Alkisah ada seorang raja yang baik hati. Beliau sangat disayangi oleh seluruh pegawai istana dan rakyatnya. Suatu hari raja memanggil penasehatnya. "Aku ingin menguji kesetian rakyatku", katanya. "Bagaimana caranya wahai Raja?", tanya penasehat. "Jika aku mati, aku ingin dijaga di dalam kubur nanti selama 40 hari. Barang siapa yang sanggup, akan aku berikan separuh kerajaanku", jawab sang raja.

Berita ini kemudian diumumkan ke seluruh negeri. Sampai sang raja wafat, belum ada satu pun yang bersedia, hingga datang seorang petani dengan hanya membawa kapak yang dimilikinya. "Akan kau jaga dengan apa sang Raja nanti?" tanya penasehat. "Hanya dengan ini", si petani menjawab. Akhirnya penguburan dilaksanakan dan petani menemani rakyat sang raja dengan berbekal kapak serta dilengkapi selang yang dihubungkan ke atas tanah, untuknya bernafas.

Hari pertama berlalu, si petani didatangi malaikat yang mananyakan perihal kapak yang dibawanya. Begitu pula dengan hari kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya hingga hari keempat puluh. Setiap malaikat yang datang kepadanya hanya menanyakan seputar kapak yang dipegangnya. Dari mana ia dapatkan, untuk apa digunakan, bagaimana ia menggunakannya, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Si petani sangat bingung. Hingga selama 40 hari itu tidak ada satu pun hal dan pertanyaan yang menyangkut sang raja.

Setelah lewat keempat puluh hari, si petani memberi tanda ke atas bahwa dia harus keluar dari dalam kubur sang raja. Sesampainya diluar, terburu-buru si petani akan pulang. "Hai petani, kau harus menerima dahulu hadiah yang telah dijanjikan sang Raja dahulu." cegah penasehat. Antara ketakutan dan gusar sang petani menjawab, "Tidak, tidak. Aku tidak mau menerimanya. Untuk satu kapak saja, hingga empat puluh hari pertanyaan-pertanyaan dari malaikat kubur tak juga kunjung selesai. Bagaimana aku harus menjawab pertanyaan dari beban harta yang akan kuterima sebanyak itu nanti?". Si petani pun segera berlalu.

Dari cerita di atas, mungkin dapat disimpulkan bahwa untuk satu kesetiaan butuh pengorbanan besar. Dan untuk setiap harta yang diamanatkan kepada kita, sungguh, kita harus benar-benar siap mempertanggungjawabkannya di Yaumul Hisab nanti. Wallahu'alam bishawaab.***


(Sumber : Tabloid MQ EDISI 6/TH.I/OKTOBER 2001)

2 komentar: