Rabu, 07 Januari 2009

Cerpen Islami : Pemakaman (Karunia Hidayah)


Tanganku masih sibuk menyuapi Shibghah dengan telur setengah matang, kemudian baru kusadari kalau Yasir, suamiku, belum juga menjawab pertanyaanku. Aku menoleh penuh rasa ingin tahu.

"Abi, bagaimana Bi?" tanyaku hati-hati.

"Kita akan datang kan, semua...?" kataku ragu-ragu.

Yasir masih diam, tangannya melipat-lipat surat yang habis dibaca, kemudian memandangnya tertegun. Aku membalas tatapannya, mengharapkan kelapangan hatinya. Namun yang kutemui hanya pendar-pendar keraguan semata. Hilang harapanku sudah, dan memilih diam. Malamnya waktu kami hendak makan, kulihat suamiku asyik bercanda dengan kedua pasukan kecilku; Shibghah, yang kadang-kadang kupanggil si Buyung, dan Zaid, aku membiasakan Shibghah memanggil kakaknya dengan 'Abang'. Dalam ketenangan, aku menyendokkan nasi ke dalam piring Yasir, serta meletakkan sepotong rendang dan sayur. Dan kepada kedua mujahidku, aku memanggil mereka untuk segera duduk. Zaid telah pandai melayani diri sendiri, sedangkan Shibghah masih harus kusuapi.

"Salikha...!" panggil Yasir tiba-tiba.

"Apa kau benar-benar ingin menghadiri pemakaman Nenek Fong?"


Aku tertegun sesaat. Kukira, dengan diamnya Yasir tadi siang, berarti dia sudah tak ingin membicarakan masalah itu lagi. Tetapi kini Yasir memulainya lagi.... Aku mendongak menatapnya, dan sedikit ragu-ragu kuanggukkan kepala.

"Kalau Abi ijinkan, ya, Bi. Aku ingin pergi. Dan sebenarnya bukan karena sekedar pemakaman Nenek Fong saja, tetapi Mami.... Aku sudah lama sekali tak menengok Mami. Hampir setelah Buyung lahir. Dan aku masih berharap Mami akan berubah."

Oh! Lega rasanya hatiku, telah mencetuskan perasaan ini. Yasir memandang ke arah lain. Lalu perlahan berkata, "Ya sudah, pergilah. Tetapi aku tidak ikut, anak-anak juga jangan...."

Hah?! Aku tercekat. Kalau begitu, sama halnya dengan Yasir tidak mengijinkan aku pergi. Aku tak dapat membayangkan kehadiranku di tengah keluarga besar Cina-ku. Dan aku harus datang sendiri ... Tiba-tiba saja, wajah mereka sudah terbayang di pelupuk mata. Helen, Mamiku pasti akan menegurku dengan heran. "Haiy-ya! Shau-Ning, mana suamimu dan anak-anakmu?"

Lalu Bun Heng, kakak laki-laki pertamaku, dia pasti akan tertawa sambil memandangku sinis. "Bertahun-tahun kawin, suamimu cuma bisa memberikan kain penutup kepala botakmu!!"

Oh, tidak!! Aku tak ingin pergi! Aku tak mampu membayangkan kehadiranku sendiri. Tanpa Yasir, tanpa anak-anak. Tanpa terasa, sebutir air mata menitik diam-diam ketika aku bersujud, saat shalat Isya. Ya Allah, aku tidak ingin dikatakan sebagai anak durhaka, tetapi aku pun tak mau menjadi isteri yang dilaknat suami. Maka, ya Allah, hindari aku dari dilema ini. Engkaulah Maha Pembolak-balik hati. Dan ketika pergi tidur, pertanyaan lama kembali menggaung di ruang hati. Mami..., Mami, kenapa hatimu begitu keras?

Sore-sore sekitar pukul 3.00, kedua anakku sudah rapi dan caem-caem. Zaid dan Shibghah begitu riang bermain pedang-pedangan di teras samping. Dengan begitu aku dapat mudah mengawasi mereka, sambil menyetrika baju. Ketika kudengar derum mobil memasuki garasi, hatiku mendadak berdebar keras. Ramai suara anak-anak menyongsong Abi mereka. Dan langkahku cepat meluncur ke pintu.

"Assalamu'alaikum...," Yasir begitu menjulang di ambang pintu.

"Wa'alaikumus salam..," jawabku. Dan segera meraih tas di tangannya.

"Salikha?" panggilnya.

Aku menoleh padanya, dan merasa bingung mendapati tatapannya yang penuh heran.

"Kau tidak jadi pergi, Salikha?"

Aku menggeleng keras. "Tidak, Bi...," jawabku pelan. Lalu memutar langkah ke dapur. Dalam sekejap segelas susu hangat yang segar siap terhidang. "Aku tak mau jadi isteri yang dilaknat suami, Bi. Aku tidak mau pergi, kalau sebenarnya Abi tidak betul-betul mengijinkan...," jawabku perlahan sekali.

"Bi, susunya, Bi...."

Yasir duduk di hadapanku. Kedua tangannya menangkup di atas tanganku. Dengan sendirinya aku jadi mendongak, dan kutemui sorot mata jenaka dari kedua matanya. "Tetapi kaudandani Buyung serta Abang, seperti hendak bepergian...", godanya. Mau tak mau, aku jadi ikut tersenyum pula.

"Salikha. Siapa sebenarnya yang paling ingin kau temui?"

"Mami...," jawabku serasa tercekik. Dan tanpa dapat kutahan, setetes embun turun bergulir dari kedua sudut mataku. "Nenek Fong meninggal dalam usia 75 tahun. Sedang Mami, kini telah 45 tahun. Betapa inginnya aku dekat kembali, serta membimbing beliau di hari tuanya."

Yasir menghapus pipiku yang basah.

"Salikha...," panggilnya lembut.

"Pergilah."

Aku kembali menatapnya bimbang.

"Tentu! Tentu berdua denganku, dong...."

Oh! Alhamdulillah. Terima kasih, ya Allah.

"Kau yang setir ya..., aku capek."

Aku mengangguk. Insya Allah, Yasir dapat memahami sorot mataku yang begitu menyayanginya, dan terharu dengan ketulusannya.

Waktu sampai di rumah Bibi Nio Hian, rumah duka itu sudah begitu ramai. Tentu saja kehadiranku jadi pusat perhatian. Seorang wanita muda bermata sipit, dengan jilbab putih yang berkibar; lalu ada Yasir melangkah di sisiku serta anak-anak mengapitku. Ah, aku tak peduli!!

"Barangkali sebaiknya anak-anak tak usah ikut ke dalam?" kata Yasir sekeluar dari mobil, "Atau mereka tunggu di mobil bersamaku...."

"Tidak apa-apa, petinya sudah tidak ada kok," kataku.

"Baiklah, tetapi Maghrib kita harus sudah pulang."

Ketika kami masuk, sepupuku Mary memberi kain putih untuk kami kenakan di pergelangan tangan. Aku merasa serba salah, karena harus pura-pura berduka. Dan juga merasa bersalah pada Yasir, hingga akhirnya kukantongi saja kain putih itu. Bao bao menyambut kami dengan senyum lebar, lalu memberi kami masing-masing sebungkus permen dan seamplop merah berisi uang.

"Apa yang harus kita lakukan?" bisik Yasir.

"Aku pun tak tahu," jawabku singkat.

"Kata Mamiku," Bao bao nimbrung, "Ini semacam penangkal, kalau-kalau kalian mendapat nasib buruk gara-gara hadir di sini. Makanlah permen itu, dan kelak kau dapat beli keberuntungan lain dengan angpao itu." Sewaktu Bao bao berbalik, cepat kulakukan tindakan pengamanan. Kuminta satu persatu amplop serta permen-permen itu dari kedua anakku.

"Anak sholeh!! Anak sholeh, coba dengarkan Ummi. Ini permen yang ditujukan pada selain Allah. Ini barang haram, tidak boleh dimakan. Kemarikan, berikan itu pada Ummi, Nak...." Alhamdulillah, anakku semua penurut dan mudah diberi pengertian. Hanya Zaid agak merasa sayang dengan amplop uangnya.

"Nak, sayang Ummi.... Dengar! Amplop uang itu juga tak boleh mengotori perutmu. Hayo, berikan pada Ummi, anak sholeh!" tegurku lebih tegas. "Nih lihat! Abi pun memberikannya pada Ummi."

Akhirnya beres juga urusan dengan anak-anak. Ketika kami duduk, Mami mendekatiku tiba-tiba. Ia meremas jemariku, dan kulihat matanya basah. Aku membalas rengkuhannya diam-diam. Bibi Nio Hian tidak menangis, bahkan menegurku. "Kenapa terlambat? Semua menunggu kamu."

Sesungguhnya, aku tak dapat menduga siapa yang Mami tangisi. Kepergian Nenek Fong, ibunya, ataukah kerinduannya padaku. Yang jelas, aku sendiri tak dapat menangis. Ruangan yang kurang cahaya ini begitu ramai dengan suara dan kesibukan orang. Asap dari selusin hio menguap ke udara, mungkin melambangkan anak tangga bagi yang meninggal untuk meniti jalan ke surga. Begitu menurut kepercayaan Cina. Aku semakin merasa bersalah.

Dalam pandangan Yasir, tentu semua penuh kemudharatan. Yasir yang terlahir sebagai anak tunggal, tentu saja tak biasa dengan keluarga besar yang ramai begini. Dan sebagai muslim kami pun merasakan kegersangan suasana. Dari jauh, aku sempat mengamati, ada tiga orang lain yang tak begitu terlibat kesibukan seperti halnya aku dan Yasir. Kalau tak salah mereka adalah Vera, Winnie, dan Bondri, mereka sepupuku semua. Sementara abang, kakak, dan adikku, tampak berjajar di seberang sambil melirikku tak acuh.

Aku merasa sedih dengan sendirinya. Bukan karena adik-kakakku tidak mengacuhkan, tetapi karena Mami seperti tak memberi kesempatan menumpahkan rindu. Karena Mami cepat menghilang dari mataku. Mungkin menurutnya bukan saat yang tepat, di masa duka begini.

Shibghah mulai menangis, merasakan keadaan yang hiruk pikuk dan terasa asing. Sementara Zaid merengek-rengek tak jelas.Yasir menyelamatkan suasana dengan mengajak anak-anak ke luar, bermain di kebun bunga. Sementara aku menyibukkan lisanku dengan dzikrullah. Mataku terpejam dalam tunduk yang dalam. Dan ketika kutengadahkan kepala, tatapanku bersirobok dengan mata Mami.

Rasanya seperti berpuluh tahun yang lalu, ketika aku berdoa bersama-sama jemaat gereja, memohon ampun bagi dosa Papi. Padahal doaku bukan untuk Jesus Kristus, tetapi kepada Allah al-Khaliq. Aku masuk Islam dengan keinginan sendiri, sejak Papi mulai sakit-sakitan. Dan tak seorang pun mengetahui keislamanku. Dan aku tak pernah menangisi kematian Papi!

Tiba-tiba aku terisak, dan aku sendiri tak tahu kenapa. Aku merasa panik dan mencoba menghentikan tangisku, namun tak sanggup. Aku sedih, sekaligus marah. Ya Allah..., laa hawla walaa quwwata illa billah. Tiada daya dan kekuatanku selain dari-Mu, ya Allah.

Mami menatapku. Ia tahu, air mataku bukan untuk Nenek Fong, tetapi untuk Papiku. Mami sudah menantiku menangis begitu lama, lebih dari dua puluh tahun sejak hari pemakaman Papiku. Usiaku 13 tahun, waktu itu ; hatiku penuh kemarahan. Mamiku, adikku dan kakak serta abang, dan aku duduk di sudut, satu setengah jam sebelum upacara pemakaman dimulai. Dan Mami memarahiku, sebab aku menolak menjenguk Papi di dalam peti mati.

"Johan sudah mengucapkan selamat jalan. Johan sudah menangis. Samuel juga, Samuel menangis. Bun Heng, Clara, Tessa, semua sudah!!" katanya gusar.

Aku tidak ingin meratapi pria di dalam peti mati itu. Pria penyakitan yang kurus kering dan resah, yang sering tak mirip Papiku yang dulu : periang, gagah, selalu tertawa dan tahu apa yang harus dikerjakan atau berbuat sesuatu. Dan di mata Papiku, aku hebat, aku adalah "Edna Fong yang sempurna", bukan Edna Fong yang menjengkelkan. Tetapi Papi begitu murka dan memakiku "si pemberontak", waktu tahu aku masuk Islam. Dan sakitnya makin bertambah parah, dan parah....

Mamiku menghapus air matanya, "Mana ada anak yang tidak bisa menangisi Papinya sendiri?!" katanya.

"Biar! Orang itu bukan Papiku, dia kafir!!"

"Diam!! Mami tahu kamu sekarang Islam, tapi jangan teriakkan itu. Nanti kalau Bun Heng dengar, kamu bisa habis dilumatnya !"

"Biaar!!" seruku keras kepala.

"Sekarang menangislah untuk Papimu!"

"Tidak mau!"

Saat itulah Mamiku bangkit dan menatapku penuh amarah. Dan...tiba-tiba ia menampar pipiku. "Kamu anak jahat!" serunya. Aku shock, untuk pertama kalinya tangan Mami mendarat di pipiku, sepanjang 13 tahun usiaku.

"Haiyya!! Kalau kamu tak bisa menangis, aku akan buat kamu menangis!" Dan ia menamparku berulang-ulang.

"Ayo nangis! Nangis! Nangis, kataku!!" tetapi aku tak bergerak sedikitpun. Aku bisu bagai batu, dan tak setetes pun airmata yang jatuh. Akhimya, menyadari perbuatannya yang melampaui batas, Mamiku menggigit tangannya sendiri, dan mengeluhkan sesuatu dalam bahasa Cina. Dibimbingnya Johan dan Tessa, adik-adikku, menjauhiku. Maka duduklah aku sendiri. Marah, tapi puas. Aku merasa menang dan senang. Walau tak paham senang karena apa? Dan menang karena apa?

Lalu aku berjalan menuju peti mati Papiku. Aku benar, pikirku, dan Mami salah. Dan aku bertekad takkan menangisi lelaki ini. Kenapa dia tak menganggapku hebat lagi, ketika aku masuk Islam? Seperti itulah hubunganku dengan Mami, sejak saat itu. Tapi diam- diam Mami sedikit melindungiku dari amukan saudara-saudaraku yang lain. Sampai akhirnya ketika kelas 2 SMA, Bun Heng tahu tentang keislamanku, lalu menghajarku habis-habisan, dan menggunduli rambutku.

Aku lari dari rumah, lalu tinggal bersama guru SMA-ku. Sampai akhirnya menikah dengan Yasir, anak guruku. Acara walimahanku lebur dengan air mata. Tidak ada abang atau paman menjadi waliku, tidak ada famili satupun yang menghadiri. Tidak ada lagi Edna Fong kini, yang ada Salikha....

Setelah anak pertama lahir, Zaid kubawa berkunjung pada Mami. Dan tak ada kata-kata mesra penyambutan, tetapi sikap bermusuhan yang mereka tampakkan. Bun Heng mengancam, dan tak boleh sekali lagi aku menginjakkan kaki di Petogokan, rumah Papi - tempat tinggal Mamiku. Sampai akhirnya datang undangan itu, undangan pemakaman Nenek Fong.

"Salikha...!"

Aku terkejut menoleh. Lamunanku terputus, Yasir menatapku galau.

"Sudah Maghrib," katanya.

"Astaghfirullahal adzim...."

Kulirik pergelangan tangan, pukul 06.00 teng!! Bagaimana aku berpamit diri dari upacara duka yang belum ketahuan kapan usainya? Akhirnya kugamit lengan Bao bao di dekatku.

"Aku mau shalat Maghrib dulu," lalu bergegas keluar menguntit suamiku. Yasir telah jauh beberapa langkah dariku, dengan Shibghah dan Zaid dalam gandengannya. Waktu aku berlari-lari kecil, kudengar suara orang memanggil.

"Cia...Cia, Cia mau kemana?" tanya Vera, sepupuku yang hanya berdiam diri sedari tadi.

"Aku mau shalat!"

"Tak ada masjid di sini, klenteng banyak," kata Vera terengah-engah.

Aku menatapnya bimbang.

"Cia, datanglah ke rumahku. Ada salah satu ruangan di rumah, yang dapat kau pakai shalat."

Aku menatapnya ragu-ragu, lalu beralih memandang Yasir yang berhenti melangkah pula. Nampaknya dia menemui masalah yang sama, tak menjumpai masjid di sekitar rumah Bibi Nio Hian.

"Ayo Cia!! Tak apa-apa, insya Allah."

Aku tercekat. "Vera, kau...kau...," tetapi tanganku sudah ditariknya masuk ke halaman rumah Bibi Heni, persis di sisi rumah Bibi Nio Hian. Vera memang anak dari Bibi Heni, adik Mamiku. Aku teringat sesuatu, lalu melambaikan tangan pada Yasir. Waktu kubuka lemari pakaiannya, ada mukena putih yang terlipat rapi. Segera kutarik keluar, lalu menatap Vera seperti tak percaya.

"Kau punya ini?" tanyaku heran.

"Ah, Cia. Insya Allah yang tadi, apa tak cukup bagimu?" katanya.

"Aku Islam sekarang, Cia. Hanya kami tak seberani dirimu dulu...," sambungnya lagi.

"Kami?!!" aku terkejut untuk kedua kalinya.

"Yah, kami. Aku, Bondri dan Winnie."

Bola mataku membulat takjub. "Subhanallah...alhamdulillah!!" rasanya hanya tasbih dan tahmid yang mampu kuucapkan. Lidahku begitu sulit untuk mengucapkan yang lain, karena merasakan kebahagiaan yang tak terkira.

"Jadi, kalian menyembunyikan 'ini' selama ini."

"Yah, mulanya kami tidak saling tahu. Tetapi ketika aku memergoki Winnie shalat Subuh di kamar pembantu, barulah kutahu dia sudah memeluk Islam. Sedang aku sendiri, sebelum tahu Winnie Islam, selalu shalat Subuh di dapur...." Subhanallah!! Ghirahku meninggi lagi. Kini kurasakan sesuatu mengalir begitu hangat di sepanjang aliran darahku. Kini, aku punya pasukan kecil di tengah keluarga besarku. Alhamdulillah, ya Rabbul Izzati.

"Lalu Bondri? Bondri bagaimana?"

"Sepertinya, Bondri lebih dulu beriman dari kami. Tapi, baik aku dan Winnie tak pernah tahu selama ini. Dia begitu pandai menyimpannya sendiri...", Vera tanpa diminta telah menjelaskan.

"Tetapi Cia, kami belum bisa sepertimu," ucap Vera sendu.

"Allah Maha Tahu, kemampuan kalian masing-masing."

Waktu Yasir sudah berwudhu, kami semua siap untuk shalat berjamaah. Aku, Vera serta kedua mujahid kecilku. Ketika kami kembali ke rumah duka, tepatnya rumah Bibi Nio Hian, Maminya Bondri, kami disambut oleh kesibukan yang luar biasa.

"Edna? Edna, kamu ikut ke klenteng, kan?? Yuk, sesudah itu kita makan enak," ajak Bibi Nio Hian meriah serta ramah.

"Maaf, Bibi, tidak bisa. Anak-anak telah mengantuk, dan Bang Yasir harus bekerja besok," tolakku sehalus mungkin.

"Ah, anak-anak selalu sibuk!" ujar Bibi Nio Hian menggeleng-geleng.

"Ayo, Helen. Itu Bun Heng sudah mengambil mobil." Kini Bibi bicara pada Mami.

"Edna akan mengantar aku pulang," jawab Mamiku tiba-tiba.

Bibi Nio Hian mendekati Mamiku dengan ekspresi cemas. Lalu katanya dalam bahasa Cina, "Tidak ikut? Kau sakit?"

Aku tidak begitu paham bahasa Cina, tetapi bisa menebak apa yang dimaksud Mami ketika ia menunjuk dadanya. Ada sedikit perasaan tak enak di sini, mungkin kelihatannya begitu ucapan Mami.

Setelah Bibi Nio Hian berlalu, kutanya Mami. "Mami. Mami tidak enak badan?"

"Hahh??" beliau menatapku bingung.

"Tadi Mami bilang, Mami sakit."

"Ah, kamu kan tidak mengerti bahasa Cina. Kamu orang Islam, lebih paham bahasa Arab ..." kata Mami sedikit tertawa kecil.

"Tadi Mami bilang, Mami sudah mendoakan Nenek Fong dalam hati."

"Ooh ..." kataku bingung.

Waktu kami pulang, mataku bertukar pandang dengan Winnie yang tersenyum kecil. Dan kulihat Vera tertawa gembira, sedangkan Bondri dari kejauhan menatap kami dalam diam. Kuatkan hati dan keimanan kalian, wahai saudaraku dalam Islam. Allah bersama kalian, Dia mengetahui apa-apa yang kalian usahakan dan niatkan.

Mami sempat melihat lirikanku pada ketiga sepupuku tadi. Aku jadi ingin tahu, apakah Mami tahu mereka telah Islam ??

Di dalam mobil, kami lebih banyak diam. Kerinduanku pada Mami, entah lumer kemana. Aku cuma memandang keluar, memperhatikan pohon-pohon berlari di jendela. Yasir kelihatan sekali menyetir dengan canggung. Sementara Mami justru meriah, bersenda gurau bersama Shibghah dan Zaid. Sebentar-sebentar kulirik mereka, kuatir Mami mendongengkan tentang Dewi Kwan Im atau Siddharta Buddha kepada anak-anakku, seperti dulu Mami mendongeng waktu aku kecil.

Ketika semakin mendekati rumah Mami, tiba-tiba beliau memanggil. "Yasir ..."

Yasir terkejut, lalu menjawab. "Ya, Mami ... ada apa?"

"Lurus saja, Yasir. Di ujung jalan itu ada musholla kecil. Ba'da Maghrib begini, ada kyai-kyai muda yang mengajar anak-anak kecil mengaji di sana. Mami ingin kamu serta Edna, menjadi saksi atas syahadat Mami ..."

"Mamii !! Allahu Akbar !" jeritku tak tertahankan. Yasir pun tak kalah terkejutnya dariku. Namun dia lebih tenang dan menguasai keadaan. Ketika kami saling menatap, kudapati mataku dan mata Yasir basah.

"Hati-hati Yasir, setirnya. Habis dari musholla, kita pulang dulu ya, ke rumah Mami. Ya Zaid, Shibghah ?.... Nanti Ha-bu sediakan kue bulan. Kita akan makan kue bulan."

Subhanallah. Jadi, itukah ya Allah, surprise-Mu di balik upacara pemakaman ini ? Terangnya mentari serasa membayang di pelupuk mata.

(by : El Kinanti)



keterangan :

Shau-Ning = panggilan sayang, artinya si mungil.
Angpao = amplop keberuntungan berisi uang, dalam kepercayaan Cina.
Cia = artinya kakak, panggilan untuk kakak perempuan.
Ha-bu = artinya nenek.

2 komentar:

  1. Assalamu 'alaikum Wr.Wb.

    Saya El.Kinanti, si penulis Cerpen ini. "Pemakaman". Subhanallah, saya sendiri cukup terkejut ketika sedang searching iseng2 di internet dengan keyword nama saya sendiri, dan muncullah Cerpen ini.

    Nama El.Kinanti adalah kependekan dari nama saya sendiri, Eniya Linda Kinanti. Dan bila tidak salah ingat, cerpen ini pernah saya kirimkan ke majalah Ummi atau Annida, pada sekitar tahun 1991 - 1994, saya sdh lupa pastinya. Cerpen ini kalau tidak salah juga saya kirimkan sebagai cerpen peserta Lomba Cerpen Islami, dan memenangkan Juara Kedua (Insya allah, kalau saya tidak salah ingat).

    Sampai saat ini saya juga masih senang menulis Cerpen, tapi lebih banyak untuk konsumsi (kepuasan pribadi) dan sebagian saya tuliskan dalam blog saya di wordpress, serta di Facebook.

    Mohon komentar balik dari pihak blog mengenai hal ini. Karena dulu saya membuatnya dengan mesik ketik manual, sehingga tak punya soft copynya, dan juga saya tidak baik dalam mendokumentasikan hal-hal khusus seperti "cerpen-cerpen" saya, sebelum semudah jaman sekarang karena ada internet.

    Komentar terakhir saya, saya mohon konfirmasi balik dari pihak newmasgun.blogspot, setelah melakukan konfiramsi pada pihak-pihak yg saya sebut tadi, majalah Annida atau Ummi. Dan ijinkan saya mempublikasikan kembali Cerpen ini di dalam blog saya dan Facebook saya (El Kinanti)

    Sebagai catatan terakhir dari saya adalah, Cerpen ini saya tulis dan saya dedikasikan pada Ibu saya dan bernazar apabila menang atau sekalipun hanya sekedar dimuat, honornya akan saya berikan pada Ibu saya untuk membeli jilbab beliau. (Di kala itu saya msh berstatus mahasiswa dan belum pny pendapatan sendiri).Dan Alhamdulillah terkabul dan kami berdua mengambil honor pemuatannya di Kantor Pos Condet, Jakarta Timur.

    Saya publishkan komentar saya untuk menghindari rasa suuzhan dalam diri saya pada kedua majalah yang saya sebutkan tadi dan pada blog ini, serta juga untuk menghindari suuzhan dari pihak blog pada diri saya. Wallahu a'lam bis shawab.

    Demikianlah statement dari saya.

    Wabillahitaufik walhidayah,
    Wassalamualaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.

    El.Kinanti
    (Eniya Linda Kinanti)

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah saya bisa ketemu dgn pengarang cerpen ini, cerpen ini saya dapat udah lama sekali saya juga udah lupa kapannya. saya simpan dan kemudian ketika bikin blog saya publikasikan dgn harapan mudah2an banyak orang yg bisa mendapat hikmah dari cerpen ini.
    Sangat inspiratif sekali,pertama baca dulu saya sampai keluar air mata karna terharu dan menghayati isi ceritanya.
    Maaf dulu saya ndak tahu el kinanti siapa dan mesti hub dmana jadi ndak bisa konfirmasi izin publikasi diblog saya he...he... maafin ya.
    salam kenal dari saya. add juga di facebooknya ya nanti.

    BalasHapus