Rabu, 25 Agustus 2010

Cara Pemimpin Hamas Puasa/Shaum



Sejatinya tidak ada yang berbeda dengan cara berpuasa Ramadan yang dilakoni banyak orang. Makan sahur, berbuka, salat tarawih, dan tadarus. Hampir sebagian besar negara Arab, kecuali Oman, menetapkan permulaan puasa kemarin.

Namun, bagi para pemimpin Hamas, bulan suci ini menjadi saat paling tepat memohon kepada Allah agar penjajahan Israel terhadap bangsa Palestina berakhir.“Ini merupakan saat paling baik untuk memohon kepada Allah Mahakuasa untuk membebaskan Yerusalem dan semua wilayah yang dijajah oleh Israel,” kata Abdul Aziz Dweik, Ketua Parlemen Palestina dari kelompok Hamas, kepada *Tempo* melalui telepon selulernya kemarin.

Apalagi tahun ini merupakan puasa kedua bagi dia dapat berkumpul bersama istri, tujuh anak, dan 16 cucunya. Ia dibebaskan Juni tahun lalu setelah mendekam bersama lebih dari 40 anggota parlemen Hamas selama tiga tahun di penjara Israel.

Lelaki 62 tahun ini menyadari Ramadan merupakan bulan berlimpah pahala. Salat wajib dilipatgandakan, dan ibadah sunah diganjar pahala wajib. Karena itu, ia tidak menyia-nyiakan waktu. Ia mengaku tidur hanya empat-lima jam sehari.

Lantaran tugasnya sebagai ketua parlemen tidak terlalu sibuk di bulan suci ini, ia lebih banyak menggunakan waktu untuk beribadah.

“Saya biasanya paling sedikit khatam Al-Quran lima-enam kali selama Ramadan,”ujar Aziz Dweik, yang menetap di Kota Hebron, Tepi Barat. Orang Arab menyebutnya AlKhalil, di mana terdapat kuburan Nabi Ibrahim di sana.

Ia bangun pukul 3 dinihari. Sebelum makan sahur, ia menunaikan salat tahajud. Selepas salat subuh, ia tidak tidur, melainkan membaca AlQuran sebanyak yang ia mampu, dilanjutkan pelbagai kegiatan lainnya.

Berbuka ia lakukan di rumah bersama istri dan dua cucu mereka yang tinggal bersama. Baginya, tak ada menu favorit."Apa yang tersedia, saya makan," katanya.

Aziz Dweik berusaha keras salat berjemaah di Masjid Ar-Ribath, yang berjarak hanya setengah kilometer dari kediamannya. Kebiasaan di masjid itu, salat tarawih 20 rakaat dan witir satu rakaat. Namun, di antara kedua salat itu, jemaah masjid bertadarus satu juz saban malam. Ia biasanya didaulat menyampaikan ceramah seputar hikmah bulan puasa.
Meski Ramadan merupakan saat paling istimewa bagi kaum muslim, menurut dia,militer Israel tidak melonggarkan pengamanan. Hingga kini masih ada sekitar 650 pos pemeriksaan di seantero Tepi Barat selain pembangunan Tembok Pemisah yang masih terus berjalan sejak delapan tahun lalu.

Ia sangat menyesalkan tidak dapat salat di Masjid Al-Aqsha, tempat paling suci ketiga bagi orang Islam setelah Masjid Al-Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah.

Meski Israel mengizinkan lelaki dan perempuan di atas usia 40 tahun, Aziz Dweik tidak masuk hitungan. “Sebab, kegiatan politik saya dianggap berbahaya,”ujar Dweik.

Sumber : TEMPO Interaktif
( http://www.tempointeraktif.com/hg/tips_lebaran_10/2010/0813/brk,20100813-270974,id.html )
Stay cool in http://newmasgun.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar