Senin, 21 Oktober 2013

Jujur Bukan Kepribadian Permanen, Harus di Perjuangkan


Sahabat, jujur merupakan kepribadian terpuji yang memungkinkan pelakunya dihormati. Sayangnya, menerapkan jujur tidak semudah yang dipikirkan. Beberapa kondisi seolah "menggiring" seseorang untuk berbohong.
Kondisi ini didukung oleh lingkungan yang seperti mengizinkan seseorang untuk berbohong. Bahkan, lingkungan seperti sudah memaklumi apabila ditemukan kebohongan.
"Jujur adalah sebuah kepribadian, tapi tidak permanen. Kepribadian sendiri dipengaruhi pembawaan dan karakter," ujar psikolog Roslina Verauli beberapa waktu lalu di Jakarta.
Pembawaan, kata Roslina, akan menjadi temperamen yang cenderung melekat. Adapun karakter pembentukannya sangat bergantung pada lingkungan tempat seseorang tumbuh. Salah satu karakter adalah jujur. Dengan sifat kepribadian yang cenderung labil, jujur harus ditanamkan sedini mungkin.

Roslina menyarankan orangtua dan lingkungan membiasakan bertindak serta berkata jujur saat anak mulai membuka mata. Hasil paparan tindakan dan perkataan jujur bisa dilihat saat anak berusia 2 tahun.
"Saat usia 2-3 tahun anak mulai bisa bermanipulasi. Mereka mulai bisa berbohong untuk memperoleh apa yang diinginkan," kata Roslina.
Anak yang terbiasa melihat dan mendengar kejujuran bisa membentengi diri dari kebohongan yang ingin dilakukan. Pemberian contoh ini harus dilakukan terus-menerus bersama seluruh komponen keluarga.
Apabila perlu, diadakan sanksi bagi anggota keluarga yang memberi contoh kebohongan. Selain pemberian contoh, lingkungan juga harus memberi suasana senyaman mungkin sehingga anak bisa berkata dan berlaku jujur.
Roslina menyarankan orangtua tidak memarahi anaknya jika anak ketahuan berbohong, atau hendak berlaku jujur.
"Jangan dimarahi. Lebih baik diajak duduk bersama, dielus, dan dibuat tenang. Jangan bikin anak tidak nyaman dengan ancaman, omelan, atau pukulan," kata Roslina.
Ancaman justru akan membuat anak enggan mengeluarkan kejujuran yang dipendam. Selain menghambat kejujuran, ancaman juga memunculkan dendam yang tidak baik bagi perkembangan emosi anak.

Sumber : Rosmha Widiyani (Kompas Online)
Stay cool in http://newmasgun.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar