Jumat, 15 November 2013

Tentukan IQ & EQ Anak sejak di Kandungan

Sahabat, seseorang tak bisa dikatakan cerdas hanya berdasarkan nilai intelligent quotient (IQ) yang dimiliki. Kadar emosi yang menentukan bagaimana dia menyikapi kondisi sekelilin, juga menjadi komponen penting kecerdasan. Penyikapan ini tercermin dalam nilai emotional quotient (EQ) yang dimiliki.

Nilai EQ yang tinggi mengindikasikan seseorang memiliki sikap sosial yang baik. Artinya, dia akan bersikap sesuai norma dan aturan yang berlaku. Kondisi sebaliknya terjadi pada mereka yang ber-EQ rendah, yang mengindikasikan sikap antisosial dan mementingkan diri sendiri. Seseorang dengan sikap tersebut cenderung minim manfaat bagi orang di sekitarnya.

Gabungan nilai IQ dan EQ yang baik akan menghasilkan individu berkualitas. Individu tersebut diharapkan bisa memaksimalkan potensi untuk kemajuan diri dan lingkungannya. Tentu bukan perjalanan singkat menyusun individu berkualitas tinggi tersebut.
 Perjalanan sudah dimulai sejak ibu merencanakan kehamilannya tepat seusai menikah. Hal ini berwujud pada komitmen ibu untuk selalu mengonsumsi cukup nutrisi setiap harinya, termasuk mikronutrien. “Konsumsi mikronutrien ibu tidak hanya menentukan kognitif, tapi juga behave anak. Perilaku inilah yang kemudian menentukan apakah anak berkualitas baik atau tidak di kehidupan bermasyarakat,” kata pakar kebidanan dan kandungan, DR dr Noroyono Wibowo, SpOG (K).

Mikronutrien, kata Noroyono, berperan besar dalam penyusunan susunan saraf walau diperlukan dalam jumlah kecil. Selama kehamilan, susunan saraf pusat merupakan bagian yang paling awal dan akhir dibentuk. Selama 9 bulan ibu harus memastikan cukup konsumsi mikronutrien yang meliputi besi, zinc, folat, vitamin, kalsium, magnesium, fosfor, dan tembaga.

Mikronutrien yang cukup akan menghasilkan sel saraf yang terbentuk dan tersambung sempurna. Sebaliknya, kekurangan mikronutrien menyebabkan sel saraf tidak tersusun sempurna. Padahal, kualitas sel saraf inilah yang menentukan nilai IQ dan EQ anak.

Noroyono mencontohkan dampak kekurangan besi yang tidak sekadar menyebabkan anemia. Defisit besi mengakibatkan buruknya sambungan antarsel saraf (myelinasi). Myelinasi adalah selubung penyambung sel saraf yang tersusun atas lemak dan protein.

Selubung yang baik mempercepat penyampaian informasi antarsel saraf hingga otak dan diolah menjadi suatu respons. Sedangkan selubung yang buruk, banyak terdapat lubang sehingga menyulitkan informasi sampai ke otak. Bahkan bukan tidak mungkin informasi tersebut bocor dan hilang di tengah jalan. Akibatnya tidak ada respons yang diberikan tubuh.

Selubung yang buruk akan menghasilkan individu yang berpikiran lambat, tidak cepat tanggap, dan sulit berkonsentrasi. “Padahal respons inilah yang menentukan kualitas IQ dan EQ anak. Anak autis tidak memiliki myelinasi yang baik, karena itu tidak heran bila responsnya minim,” kata Noroyono.

Buruknya kecukupan mikronutrien memudahkan seorang anak terkena gangguan kejiwaan (psychological disorder) misalnya depresi, skizofrenia, hingga bunuh diri usia dini.

Sayangnya kecukupan mikronutrien masih minim di kalangan ibu hamil Indonesia. Saat ini, kata Noroyono, diperkirakan ada 2,4 juta bumil yang kekurangan zat besi dan 60 persen ibu kekurangan zinc. Padahal selain sebagai penyusun selubung myelin, besi juga menyusun rantai energi yang menentukan stamina anak sepanjang hidupnya. Sementara zinc memastikan rantai DNA berfungsi semestinya dan meminimalkan mutasi.

“Kekurangan mikronutrien sesungguhnya berdampak lebih parah dari sekadar berat badan rendah, atau organ tak sempurna. Keduanya bisa diperbaiki, beda dengan susunan saraf yang menentukan kualitasnya di masa mendatang,” kata Noroyono.

Sumber : Rosmha Widiyani (Kompas Health )
Stay cool in http://newmasgun.blogspot.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar