Kamis, 11 November 2010

Leadership : Pemecahan Masalah


Menurut F.F. Fournies ada empat alasan yang menyebabkan orang tidak melakukan unjuk kerja sebagaimana seharusnya sesuai dengan potensi yang mereka miliki yaitu mereka tidak tahu apa, bagaimana dan mengapa mereka harus melakukan hal tersebut serta karena adanya rintangan diluar pengendalian mereka dan hal ini merupakan tanggung jawab dari pemimpinnya. Sebuah program latihan, deskripsi kerja, alat yang semestinya dan wawasan berserta dengan keahlian komunikasi yang baik, akan memperoleh hasil besar dalam memenuhi ketiga persoalan pertama diatas secara efektif. Sikap yang benar dan rencana tindakan yang tepat merupakan dua hal yang sangat diperlukan dalam memecahkan masalah dengan efektif.

Kadang – kadang masalah membuat kita kewalahan, namun kita perlu mengubah perspektif kita terhadap masalah tersebut agar masalah tersebut bisa lebih bersahabat, ukuran seseorang lebih penting daripada ukuran masalahnya karena banyak orang yang sukses dan menjadi besar setelah dia berhasil mengatasi masalah dalam hidupnya, tidak ada orang yang hidup tanpa pernah menemui masalah. Hal yang menjadi masalah adalah kita sering bereaksi secara salah terhadap masalah padahal yang terpenting adalah apa yang terjadi dalam diri kita sehingga menimbulkan masalah tersebut. Hal yang membedakan antara yang berhasil dan tidak adalah mereka tidak mau berpegangan pada dalih yang umum untuk kegagalan. Mereka mengubah batu penyandung menjadi batu pijakan. Mereka menyadari bahwa mereka tidak dapat menetapkan setiap keadaan dalam kehidupan tetapi mereka bisa menetapkan pilihan sikap terhadap keadaan apa saja. Masalah bisa menghentikan kita untuk sementara,tetapi kitalah satu-satunya orang yang bisa menjadikannya permanen.

Fred Smith, pernah mengatakan kalau saya tidak bisa melakukan sesuatu untuk mengatasi sebuah masalah, itu bukan masalah saya ; itu adalah kenyataan hidup. Kita harus berhati – hati dalam mengambil sikap pasrah terhadap pendirian bahwa tidak ada jawaban bagi sebuah masalah. Seseorang lainnya mungkin akan datang membawa pemecahan. Ujian bagi seorang pemimpin adalah kemampuan untuk mengenali masalah sebelum menjadi keadaan darurat. Masalah harus mendapat proporsi besar karena harus dikenali dan diatasi pada tahap – tahap awal.

Para pemimpin besar mengenali masalah dalam urutan sebagai berikut :
- Mereka merasakannya sebelum melihatnya (intuisi)
- Mereka mulai mencarinya dan mengajukan pertanyaan ( rasa ingin tahu )
- Mereka mengumpulkan data ( Memproses )
- Mereka berbagi perasaan dan penemuan dengan beberepa rekan yang dipercaya (berkomunikasi)
- Mereka memerikan masalah (menulis)
- Mereka memeriksa sumber daya (mengevaluasi)
- Mereka membuat keputusan (pemimpin)

Kita dapat menilai pemimpin dengan ukuran masalah yang mereka tangani. Ukuran seseorang lebih penting daripada ukuran masalah. Masalah kelihatan lebih besar atau kecil sesuai dengan apakah orang yang memandangnya besar atau kecil. Orang besar akan mengatasi persoalan besar secara efektif. Masalah tidak pernah berhenti tetapi orang bisa menghentikan masalah. Hal ini bisa kita lakukan dengan membuat komitmen kepada orang dan jangan sesekali memecahkan masalah untuk seseorang tanpa melibatkan orang tersebut. Sebuah situasi hanya menjadi masalah kalau orang tidak punya sumber daya cukup untuk menghadapinya. Berpikir positif dan antusiasme akan menentukan apa yang akan anda lakukan terhadap sebuah masalah. Namun berpikir positif tidak selalu merubah keadaan kita, tetapi itu yang akan merubah diri kita.

Merencanakan tindakan yang tepat untuk memecahkan sebuah masalah merupakan sebuah keharusan bagi seorang pemimpin. Langkah-langkah yang bisa kita lakukan adalah :
- Mengidentifikasi masalah.
- Memprioritaskan masalah.
- Menetapkan masalah, bisa dilakukan dengan :
a. Ajukan pertanyaan yang tepat.
b. Bicaralah dengan orang yang tepat.
c. Dapatkan fakta yang kuat.
d. Terlibatlah dalam proses
- Memilih orang untuk membantu anda dalam pemecahan masalah.
- Mengumpulkan penyebab masalah.
- Mengumpulkan jawaban untuk memecahkan masalah.
- Memprioritaskan dan memilih pemecahan terbaik.
- Melaksanakan pemecahan yang terbaik.
- Mengevaluasi pemecahan.
- Menetapkan prinsip atau kebijaksanaan untuk menjaga agar masalah tidak terulang.

Mengajarkan prinsip secara efektif kepada staf bisa kita lakukan dengan memberikan teladan,menghubungkan mereka dengan menjawab pertanyaan dan memberikan pujian kalau prinsip – prinsip tersebut sudah diterapkan dalam kehidupan mereka. Kita tidak boleh membuat sebuah hubungan yang merupakan ketergantungan kepada pemimpin,melainkan hubungan yang mendalam.

Stay Cool in http://newmasgun.blogspot.com
Baca Juga :
- Leadership : menciptakan Perubahan positif
- Leadership : Nilai Integritas Dalam Kepemimpinan
- Skala prioritas dalam kepemimpinan
- Hukum Kerjsama Tim Yang Efektif
- Leadership : Kekuatan Pengaruh Pemimpin
- Leadership: Kerjasama Tim
- Leadership: Pengantar komunikasi

- Manajemen Konflik dan kerjasama Tim
- Leadership : Pemecahan Masalah

Manajemen Konflik dan Kerjasama Tim


Dalam proses interaksi antara anggota tim tidak ada jaminan akan selalu terjadi kesesuaian atau kecocokan antara individu pelaksananya. Setiap saat ketegangan dapat saja muncul, baik antar individu maupun antar kelompok dalam organisasi. Banyak faktor yang melatarbelakangi munculnya ketidakcocokan atau ketegangan, antara lain: sifat-sifat pribadi yang berbeda, perbedaan kepentingan, komunikasi yang buruk, perbedaan nilai, dan sebagainya. Perbedaan-perbedaan inilah yang akhirnya membawa organisasi ke dalam suasana konflik.

Untuk meminimalkan terjadinya konflik maka perlu adanya manajemen konflik, yaitu mengelola konflik yang akan terjadi. Mengelola konflik di sini tidak berarti kita harus menghindari konflik, apalagi menguburnya, karena bagaimanapun konflik memang harus ada. Menekan konflik sering menimbulkan lahirnya sebuah kebijakan yang prematur. Menekan konflik juga cenderung mengundang hadirnya kesalahpahaman yang tidak mewakili kepentingan siapa pun. Bahkan menurut penulis buku “Social Conflict” itu, tanpa konflik, keadilan sulit bisa diwujudkan. Karenanya, mengubur konflik akan sama artinya dengan menyimpan bom sosial yang siap meledak kapan saja ketika ada kesempatan yang memicunya.

Namun sebaliknya, mengelola konflik itu juga tidak berarti harus membiarkan apalagi menumbuhsuburkan konflik. Mengelola konflik di sini berarti cerdas memilih dan menentukan strategi pengelolaannya. Dalam bukunya yang berjudul “Social Conflict” (1986), Rubin dan Pruitt mengajukan beberapa strategi dasar yang bisa digunakan dalam pengelolaan konflik sosial yang sifatnya sangat alami itu.
Pertama, adalah strategi yang disebut dengan contending atau bertanding. Intinya, masing-masing pihak yang akan berebut kepentingan bisa melakukan segala upaya untuk menjadi pemenang tanpa harus memperhatikan kepentingan pihak lain yang menjadi lawan politiknya, bahkan berusaha agar pihak lain menyerah atau mengalah. Bentuknya pun sangat beragam. Bisa dengan membuat janji, ancaman, atau bahkan hukuman. Bahkan bisa pula dilakukan dengan ditunjukkan hanya dengan cara membuat argumentasi persuasif kalau bukan dengan cara sebaliknya, ngotot dengan pendirian sepihaknya. Tentu dengan segala dampak sosial yang bakal ditimbulkannya.

Berbeda dengan yang pertama, maka strategi kedua dilakukan dengan cara mencari alternatif cara yang seoptimal mungkin bisa memuaskan masing-masing pihak yang akan berebut kepentingan. Itu sebabnya, strategi ini disebut dengan cara problem solving (pemecahan masalah). Intinya, strategi dasar ini menyarankan agar masing-masing pihak yang terlibat konflik berusaha mempertahankan aspirasinya, tetapi sekaligus menghormati akan kepentingan lawan politiknya. Upaya kompromi, rekonsiliasi, adalah dua bentuk cara yang biasa digunakan dalam strategi kedua ini.

Memang tidak mudah untuk mencari cara pemecahan yang bisa memuaskan sepenuhnya semua pihak yang saling berebut kepentingan, lebih-lebih dalam perebutan kekuasaan. Itu sebabnya, ada beberapa strategi dasar lain yang lazim muncul dalam proses mengatasi konflik. Yielding (sikap mengalah), withdrawing (menarik diri), dan inaction (aksi diam), adalah tiga alternatif strategi lain yang mesti dijadikan acuan dalam menyelesaikan konflik. Dalam konteks itu, satu atau beberapa pihak yang terlibat dalam perebutan kepentingan bersedia menurunkan aspirasinya, bahkan jika perlu mundur menarik diri, atau sekadar tidak berbuat apa pun semata demi menghindari konflik yang membahayakan karena sudah cenderung destruktif.

Menurut Kreitner dan Kinicki (1995) dalam mengelola konflik ada 5 gaya antara lain:
a. Integrating (Problem Solving). Dalam gaya ini pihak-pihak yang berkepentingan secara bersama-sama mengidentifikasikan masalah yang dihadapi, kemudian mencari, mempertimbangkan dan memilih solusi alternatif pemecahan masalah. Gaya ini cocok untuk memecahkan isu-isu kompleks yang disebabkan oleh salah paham (misunderstanding), tetapi tidak sesuai untuk memecahkan masalah yang terjadi karena sistem nilai yang berbeda. Kelemahan utamanya adalah memerlukan waktu yang lama dalam penyelesaian masalah.

b. Obliging (Smoothing).
seseorang yang bergaya obliging lebih memusatkan perhatian pada upaya untuk memuaskan pihak lain daripada diri sendiri. Gaya ini sering pula disebut smothing (melicinkan), karena berupaya mengurangi perbedaan-perbedaan dan menekankan pada persamaan atau kebersamaan di antara pihak-pihak yang terlibat. Kekuatan strategi ini terletak pada upaya untuk mendorong terjadinya kerjasama. Kelemahannya, penyelesaian bersifat sementara dan tidak menyentuh masalah pokok yang ingin dipecahkan.

c. Dominating (Forcing)
. Orientasi pada diri sendiri yang tinggi, dan rendahnya kepedulian
terhadap kepentingan orang lain, mendorong seseorang untuk menggunakan taktik “saya menang, kamu kalah”. Gaya ini sering disebut memaksa (forcing) karena menggunakan legalitas formal dalam menyelesaikan masalah. Gaya ini cocok digunakan jika cara-cara yang tidak populer hendak diterapkan dalam penyelesaian masalah, masalah yang dipecahkan tidak terlalu penting, dan waktu untuk mengambil keputusan sudah mepet. Tetapi tidak cocok untuk menangani masalah yang menghendaki partisipasi dari mereka yang terlibat. Kekuatan utama gaya ini terletak pada minimalnya waktu yang diperlukan. Kelemahannya, sering menimbulkan kejengkelan atau rasa berat hati untuk menerima keputusan oleh mereka yang terlibat.

d. Avoiding.
Taktik menghindar (avoiding) cocok digunakan untuk menyelesaikan masalah yang sepele atau remeh, atau jika biaya yang harus dikeluarkan untuk konfrontasi jauh lebih besar daripada keuntungan yang akan diperoleh. Gaya ini tidak cocok untuk menyelesaikan masalah-malasah yang sulit atau “buruk”. Kekuatan dari strategi penghindaran adalah jika kita menghadapi situasi yang membingungkan atau mendua (ambiguous situations), sedangkan kelemahannya, penyelesaian masalah hanya bersifat sementara dan tidak menyelesaikan pokok masalah.

e. Compromising. Gaya ini menempatkan seseorang pada posisi moderat, yang secara seimbang memadukan antara kepentingan sendiri dan kepentingan orang lain. Ini merupakan pendekatan saling memberi dan menerima (give-and-take approach) dari pihak-pihak yang terlibat. Kompromi cocok digunakan untuk menangani masalah yang melibatkan pihak-pihak yang memiliki tujuan berbeda tetapi memiliki kekuatan yang sama. Misalnya, dalam negosiasi kontrak antara buruh dan majikan. Kekuatan utama dari kompromi adalah pada prosesnya yang demokratis dan tidak ada pihak yang merasa dikalahkan. Tetapi penyelesaian konflik kadang bersifat sementara dan mencegah munculnya kreativitas dalam penyelesaian masalah.
Kesimpulan

Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok ( ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain. keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai. perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dan sebagainya. Kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik.

Para pakar teori telah mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat menghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi; pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya.
Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut:
1. Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik.
2. Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk “memenangkan” konflik.
3. Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan “kemenangan” konflik bagi pihak tersebut.
4. Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik.

Disamping Itu, komunikasi merupakan inti dari interaksi antar individu, dapat terjadi secara verbal, yaitu dengan kata-kata, maupun non-verbal, yaitu dengan petunjuk. Petunjuk non-verbal dalam komunikasi terdiri dari petunjuk visual dan petunjuk vokal. Petunjuk visual antara lain, ekspresi wajah, kontak pandangan, posisi maupun gerakan tubuh, penampilan fisik seseorang, dan sebagainya.

Seseorang dapat mengetahui tanggapan orang lain yang diajak berkomunikasi, positif atau negatif, melalui ekspresi wajahnya. Interaksi antara individu dengan individu lain pada dasarnya adalah sebuah proses komunikasi, interaksi individu dengan ruang dan lingkungan hidupnya akan menyangkut masalah psikologis karena berkaitan dengan kepribadian (personality).
Manusia mampu merubah lingkungan dan ruang kehidupannya agar lebih sesuai dengan kondisi dirinya di waktu mendatang. Karenanya manusia menghadapi lingkungan alamiah dan juga lingkungan buatannya sendiri. Proses psikologis interaksi antara manusia dengan lingkungan dan ruang memperlihatkan suatu proses yang sifatnya timbal balik.

Lingkungan menurut wawasan spasial dan temporal memberikan stimulus yang mempengaruhi sistem kepribadian manusia di dalamnya dan merupakan proses persepsi, motivasi, sistem kognisi dan kebiasaan tingkah lakunya. Sesuai dengan tingkatan pengalaman serta orientasi nilai budaya yang melatarbelakangi sistem kepribadiannya, manusia akan memberikan respons-respons terhadap stimulus dari lingkungan tadi dalam bentuk tingkah laku atau tindakan, yang akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan tersebut.

Setiap kepribadian akan memberikan respons sebagai tanggapan terhadap lingkungan spasial di sekelilingnya dalam tindakan atau tingkah laku yang berbeda karena proses di dalam sistem kognisi, persepsi dan motivasi dalam kepribadian tersebut juga mengandung perbedaan. Kemudian ditambah lagi dengan orientasi nilai budaya serta pengalaman-pengalaman dibelakangnya juga tidak sama. Karenanya masing-masing kepribadian atau personalitas manusia akan memiliki tingkat penyesuaian diri dengan lingkungannya berbeda, dan memperlihatkan adanya aspek-aspek yang unik pada masing-masing individu. Respons terhadap lingkungan yang berbeda ditambah dengan unsur-unsur dan latar belakang sosial pada masing-masing pribadi kemudian juga akan memberikan makna individu sebagai ‘stimulus sosial’ bagi lingkungannya.

Setiap konflik akan disertai ‘ketegangan’ emosional. Perbedaan ketegangan tersebut dapat dicapai dengan menemukan suatu solusi konflik. Maka suatu cara kita untuk mengelola konflik, tetap diperlukan keinginan dari dalam diri kita untuk mengelolanya. Kedewasaan dan kecerdasan mengelola emosi merupakan kunci mengelola konflik. Kata Daniel Goleman (1995), kecerdasan emosi tidak lebih dari kemampuan seseorang untuk menguasai dan mengendalikan emosi dirinya dan emosi orang lain, kecakapan mengelola diri sendiri dan berhubungan dengan orang lain. Itu sebabnya, kecerdasan emosi setidaknya mensyaratkan dua hal kecakapan pribadi dan kecakapan sosial. Ketika kita bisa mengendalikan emosi kita maka kita mampu mengelola konflik dengan baik untuk tujuan yang menguntungkan organisasi

Stay Cool in http://newmasgun.blogspot.com
Baca Juga :
- Leadership : menciptakan Perubahan positif
- Leadership : Nilai Integritas Dalam Kepemimpinan
- Skala prioritas dalam kepemimpinan
- Hukum Kerjsama Tim Yang Efektif
- Leadership : Kekuatan Pengaruh Pemimpin
- Leadership: Kerjasama Tim
- Leadership: Pengantar komunikasi

- Manajemen Konflik dan kerjasama Tim
- Leadership : Pemecahan Masalah


Rabu, 10 November 2010

Leadership: Menciptakan Perubahan Positif


Mengubah pemimpin sama dengan mengubah organisasi, segala hal bangkit dan jatuh karena kepemimpinannya. Pemimpin yang tidak berubah sama dengan organisasi yang tidak berubah. Hal pertama yang sangat penting dalam mengubah sebuah tatanan baru adalah mengubah para pemimpinnya. Setelah pemimpin berpikir tentang perubahan dalam dirinya maka dia akan memahami tantangan untuk mengubah orang lain. Semakin banyak kita berubah maka semakin besar kemungkinan kita menjadi alat perubahan dalam kehidupan orang lain. Kalau kita ingin jadi sarana perubahan maka kita sendiri yang harus berubah terlebih dahulu. Oleh karena itu untuk menjadi seorang pemimpin kita harus memelihara seumur hidup sikap mau menerima gagasan baru, kualitas kepemimpinan yang akan kita berikan tergantung pada kemampuan kita untuk mengevaluasinya.

Pemimpin merupakan sarana perubahan ketika mereka secara pribadi berubah dan memahami perbedaan antara berubahan baru dan perubahan yang diperlukan. mereka harus berada didepan untuk mendorong dan menumbuhkan perubahan serta menunjukkan jalan untuk mendatangkan perubahan tersebut dengan mempertimbangkan berbagai aspek termasuk psikologis. Tidak ada yang lebih sulit untuk ditangani,lebih berbahaya untuk dilakukan atau lebih tidak pasti dalam keberhasilannya daripada memperkenalkan perubahan. Perlawanan terhadap perubahan iniversal sifatnya yang menyerang semua kelas dan budaya. Banyak orang yang berpendidikan tinggi, setelah dihadapkan dengan kebenaran ia tidak bersedia merubah pikirannya. Melawan perubahan secara tidak langsung bisa mempengaruhi kesehatan dan kehidupan seseorang.

Melawan perubahan yang dilakukan oleh banyak orang disebabkan oleh banyak hal diantaranya:
1. Perubahan tidak dimulai oleh diri sendiri
2. Rutinitas terganggu
3. Perubahan menciptakan rasa tasa takut kepada apa yang tidak diketahui
4. Tujuan Perubahan yang tidak jelas
5. Perubahan menciptakan rasa takut akan kegagalan
6. Imbalan untuk perubahan tidak seimbang dengan upaya yang dituntut oleh perubahan
7. Orang terlalu puas dengan cara yang ada
8. Perubahan tidak terjadi kalau orang berfikir negative
9. Pengikut kurang hormat terhadap pemimpin
10. Pemimpin rentan terhadap perasaan kritik pribadi
11. Perubahan bisa berarti kerugian pribadi
12. Perubahan memerlukan komitmen tambahan
13. Pikiran picik menolak penerimaan atas gagasan baru
14. Tradisi melawan perubahan

Keberhasilan seorang pemimpin dalam mendatangkan perubahan hanya akan terjadi kalau waktunya tepat. Orang berubah ketika merasa cukup sakit sehingga harus berubah; cukup belajar sehingga mereka ingin berubah; cukup menerima sehingga mereka bisa berubah. Pemimpin harus mengenali ketika orang berada dalam salah satu tahap diatas walaupun pada kenyataannya suasana tersebut sengaja diciptakan untuk menciptakan sebuah perubahan.

Perubahan bisa dilakukan secara revolusioner maupun evolusioner. Biasanya lebih mudah menyajikan perubahan sebagai sebuah penyempurnaan sederhana dari “cara kita dulu melakukannya “ dan bukannya sesuatu yang besar , baru dan berbeda sepenuhnya. Ketika usul untuk perubahan diajukan dalam organisasi,orang akan jatuh kedalam lima kategori dalam pengertian tentang tanggapan mereka yaitu :
- Inovator adalah pemimpi, yang merupakan pencipta gagasan dan biasanya tidak diakui sebagai pemimpin atau pembuat kebijaksanaan. Prosentasi mereka adalah 2%.

- Penganut pertama dengan prosentasi 10% adalah mereka yang mengetahui gagasan yang baik setelah melihatnya, mereka akan berusaha meyakinkan orang lain untuk menerimanya juga.

- Penganut pertengahan adalah mayoritas, sebanyak 60%. Mereka menanggapi pendapat orang lain dan bisa dipengaruhi oleh hal-hal yang positif dan negative organisasi. Pada umumnya mereka masuk akal dalam analisis terhadap gagasan baru,tetapi cenderung ingin mempertahankan status quo.

- Penganut akhir adalah kelompok terakhir yang mendukung gagasan, sebanyak 20%. Biasanya mereka akan menganutnya setelah mayoritas memperlihatkan dukungan.

- 8 % sisanya masuk Kategori orang terbelakang yang menentang perubahan. Komitmen mereka adalah kepada status quo dan masa lalu, kerap kali mereka menciptakan perpecahan dalam organisasi.

Proses evolusi perubahan yang sukses dalam sebuah organisasi bisa disimpulkan dalam delapan langkah yang harus terjadi sementara organisasi meningkat dari ketidaktahuan tentang perubahan yang diinginkan dan efek yang dibuatnya ke kebulatan pikiran penuh kemauan dan inovasi. Langkah– langkah tersebut adalah masalah ketidaktahuan, informasi, suntikan gagasan, perubahan individu,perubahan organisasi, penerapan secara canggung, integrasi dan inovasi. Setelah langkah diatas dijalankan dan diatasi organisasi sebagai keseluruhan akan lebih bersedia menjalani proses lagi walaupun nantinya akan menjumpai banyak penghadapan – penghadapan dari para pengikutnya.

Pada dasarnya orang tidak melawan perubahan,mereka melawan “kemungkinan diubah”. Hal yang paling penting adalah menciptakan suasana yang akan mendorong orang lain untuk berubah. Oleh karena itu pemimpin harus mengembangkan strategi untuk organisasi yang bisa dilakukan dengan :
- Pemimpin harus mengembangkan kepercayaan dengan orang lain
- Pemimpin harus membuat perubahan pribadi sebelum meminta orang lain untuk berubah
- Pemimpin harus mengetahui sejarah organisasi
- Tempatkan pemberi pengaruh pada kedudukan kepemimpinan
- Periksa dukungan yang diberikan oleh anggota
- Mencari dukungan pemberi pengaruh sebelum perubahan diumumkan
- Mengembangkan agenda pertemuan yang akan membantu perubahan
- Mendorong pemberi pengaruh untuk mempengaruhi orang lain secara tidak resmi
- Perlihatkan kepada orang lain bagaimana perubahan akan mengutungkan mereka
- Beri orang banyak pemilikan atas perubahan

Perubahan bisa menjadi bagian dari orang lain asalkan kita memberikan dan menyertakan informasi yang jelas, tujuan yang menyeluruh, keuntungan dari perubahan, mengikutsertakan anggota dalam perubahan, menjaga komunikasi yang baik, bersifat fleksibel, integritas dan memberikan antusias,bantuan,penghargaan dan pengakuan kepada mereka yang melaksanakan perubahan. Seorang semua perubahan merupakan peningkatan, tetapi tanpa perubahan tidak akan ada peningkatan dan tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah.

Stay Cool in http://newmasgun.blogspot.com
Baca juga :
- Leadership : menciptakan Perubahan positif
- Leadership : Nilai Integritas Dalam Kepemimpinan
- Skala prioritas dalam kepemimpinan
- Hukum Kerjsama Tim Yang Efektif
- Leadership : Kekuatan Pengaruh Pemimpin
- Leadership: Kerjasama Tim
- Leadership: Pengantar komunikasi

- Manajemen Konflik dan kerjasama Tim
- Leadership : Pemecahan Masalah



Selasa, 09 November 2010

Leadership: Nilai Integritas Kepemimpinan


Integritas merupakan suatu kesatuan yang sesuai antara kata – kata dan perbuatan. Sesorang yang mempunyai integritas tidak akan membagi loyalitas atau melakukan sesuatu hanya sekedar pura- pura. Mereka merupakan pribadi yang utuh yang menerapkan sistem norma dalam aspek kehidupannya, tidak mempunyai sesuatu yang disembunyikan dan ditakuti Sehingga kurangnya kredibilitas sesorang bisa dilihat dari tingkat integritasnya didalam sebuah organisasi atau lembaga.

Integritas bukanlah apa yang kita lakukan melainkan lebih banyak menunjukan siapa diri kita dan siapa diri kita pada gilirannya menetapkan apa yang kita lakukan. Sistem norma kita merupakan sebagian besar dari diri kita yang tidak bisa dipisahkan dengan diri kita dan bisa menjadi navigasi yang akan membimbing kita dalam menetapkan prioritas hidup dan menentukan mana yang akan kita pilih dan tolak.

Integritas mengikat diri kita bersama dan membangkitkan jiwa kepuasan didalam diri sehinga tidak akan membiarkan bibir mengkhianati hati kita.Konsistensi dan keyakinan diri akan dicerminkan oleh tindak tanduk kita. Integritas memungkinkan kita untuk menjadi diri sendiri sebagai pribadi yang utuh tanpa peduli bagaimana keadaannya, orang yang terlibat atau tempat pengujian kita.

Kunci utama menuju kebesaran adalah berada dalam realitas tentang apa diri kita sebagaimana yang tampak sehingga akhirnya bisa memperoleh kepercayaan sebagai seorang pemimpin yang autentik. Semakin banyak pengikut melihat dan mendengar pemimpinnya konsisten dalam tindakan dan perkataan maka akan semakin besar juga konsistensi dan loyalitas mereka. Yang diperlukan orang bukanlah motto untuk dikatakan, melainkan teladadan untuk dilihat.

Semakin bisa dipercaya diri anda maka akan semakin besar pula kepercayaan orang lain yang ditempatkan pada diri anda, dengan demikian memungkinkan diri kita memiliki hak istimewa mempengaruhi kehidupan mereka sehingga rahasia untuk bangkit dan tidak jatuh adalah integritas.

Beberapa hal yang menyebabkan integritas begitu penting :
1. Integritas membina kepercayaan
2. Integritas punya nilai pengaruh tinggi
3. Integritas memudahkan standar tinggi
4. Integritas menghasilkan reputasi yang kuat,bukan hanya citra
5. Integritas berarti menghayatinya sendiri sebelum memimpin orang lain
6. Integritas membantu seorang pemimpin dipercaya,bukan hanya pintar
7. Integritas adalah prestasi yang dicapai dengan susah payah


Stay Cool in http://newmasgun.blogspot.com
baca juga :
- Leadership : menciptakan Perubahan positif
- Leadership : Nilai Integritas Dalam Kepemimpinan
- Skala prioritas dalam kepemimpinan
- Hukum Kerjsama Tim Yang Efektif
- Leadership : Kekuatan Pengaruh Pemimpin
- Leadership: Kerjasama Tim
- Leadership: Pengantar komunikasi

- Manajemen Konflik dan kerjasama Tim
- Leadership : Pemecahan Masalah


Leadership: Skala Prioritas kepemimpinan


Disiplin dalam memprioritaskan hal – hal menurut urutan pentingnya dan kemampuan untuk bekerja mengejar tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya merupakan hal yang sangat penting bagi seorang pemimpin dan hal ini menjadi salah satu pembeda antara professional dengan amatir. Kemampuan untuk menangani beberapa proyek prioritas tinggi dengan sukses merupakan sebuah keharusan bagi setiap pemimpin untuk itu selain kerja keras dan kecerdikan, kemampuan dalam mengorganisasi merupakan hal yang harus dimiliki juga.

Seorang pemimpin harus bisa membuat inisiatif dan menginvestasikan waktu dalam merencanakan banyak hal. Mereka harus bisa memilah mana yang menjadi prioritas sangat penting dan mendesak sampai mana yang kurang penting dan tidak mendesak. Sebuah kesuksesan dari hal tersebut akan sangat meningkat seandainya unsur requirements, return reward nya seimbang dengan kekuatan yang kita miliki sehingga kita bisa melakukan pekerjaan dengan dinikmati dan senang sesuai dengan prioritas yang telah kita buat.

Prioritas terus menerus bergeser dan menuntut perhatian kita untuk terus diperjuangkan. Untuk menjaga prioritas agar tetap pada jalur yang kita inginkan maka perlu dilakukan evaluasi,elimasi dan estimasi terhadap prioritas yang telah kita buat. Kita harus mulai bijaksana untuk memilih prioritas utama yang akan kita tangani langsung atau yang bisa kita delegasikan berdasarkan tujuan organisasi dari beberapa prioritas yang penting lainnya karena kita tidak akan bisa melakukan dan memiliki semuanya.

Terlalu banyak prioritas akan melumpuhkan kita dan bisa menimbulkan masalah yang lebih besar apabila kita tidak bisa menggunakan skala prioritas yang baik untuk menanganinya. Salah satu hal yang bisa membantu kita untuk menjernihkan prioritas adalah batas waktu dan keadaan darurat dari prioritas - prioritas tersebut walaupun terkadang kita sering terlambat untuk menyadarinya.


Stay Cool in http://newmasgun.blogspot.com
Baca Juga :
- Leadership : menciptakan Perubahan positif
- Leadership : Nilai Integritas Dalam Kepemimpinan
- Skala prioritas dalam kepemimpinan
- Hukum Kerjsama Tim Yang Efektif
- Leadership : Kekuatan Pengaruh Pemimpin
- Leadership: Kerjasama Tim
- Leadership: Pengantar komunikasi

- Manajemen Konflik dan kerjasama Tim
- Leadership : Pemecahan Masalah




Senin, 08 November 2010

Hukum Kerjasama Tim Efektif


17 Hukum kerjasama tim yang efektif yang sering kita jumpai :

1. HUKUM NILAI KERJASAMA
Satu adalah Jumlah yang Terlalu Sedikit untuk Mencapai Kebesaran.
Apakah impian Anda ? Impian Lilly Tartikoff adalah mengobati kanker. Ia bukanlah seorang ilmuwan -- ia juga tidak perlu menjadi ilmuwan. Yang perlu diketahuinya adalah Hukum Nilai Kerjasama.

2. HUKUM GAMBARAN BESARNYA
Sasarannya adalah Lebih Penting daripada Perannya.
Apakah yang mendorong seorang mantan presiden Amerika Serikat untuk berkeliling dengan bis, tidur di lantai bawah tanah, dan melakukan pekerjaan kasar selama satu minggu ? Jawabannya dapat ditemukan dalam Hukum Gambaran Besarnya.

3. HUKUM POSISI YANG TEPAT
Semua Pemain Memiliki Tempat Di Mana Mereka Paling Memberikan Nilai Tambah
Seandainya Anda adalah pemimpin dunia yang bebas, bagaimanakah Anda memutuskan, tugas apa yang harus Anda berikan kepada orang yang mampu mengerjakan tugas apapun -- termasuk tugas Anda sendiri? Kalau Anda ingin semua orang menang, tentu Anda akan menggunakan Hukum Posisi yang Tepat.

4. HUKUM GUNUNG EVEREST
Semakin Tinggi Tantangannya, Semakin Tinggi Kebutuhan akan Kerjasamanya.
Tenzing Norgay dan Maurice Wilson adalah pendaki gunung yang berpengalaman dengan peralatan yang tepat. Lalu mengapakah yang satu meninggal di gunung sementara yang lain berhasil menaklukkannya? Hanya satu yang mengenal Hukum Gunung Everest.

5. HUKUM MATA RANTAI
Kekuatan Tim Dipengaruhi oleh Mata Rantainya yang Paling Lemah
Apakah menjadi soal, kalau ribuan karyawan Anda mengerjakan tugas mereka dengan baik dan hanya satu orang saja yang membuat kekeliruan? Tanyakan saja kepada perusahaan yang membayar lebih dari $ 3 milyar untuk ganti rugi dan terjerat oleh Hukum Mata Rantai.

6. HUKUM KATALISATOR
Tim-tim Hebat Memiliki Pemain-pemain yang Menjadikan Segalanya Terlaksana
Apakah yang akan Anda perbuat kalau tanggal 31 Desember sudah semakin dekat sementara armada penjualan Anda masih jauh di belakang sasaran mereka tahun itu? Dave Sutherland dapat menjelaskannya kepada Anda. Timnya mencapai sasarannya karena ia selalu mengamalkan Hukum Katalisator.

7. HUKUM KOMPAS
Visi Memberikan Arah serta Kepercayaan Diri kepada Para Anggota Tim
Presiden Enron baru tahu tentang usaha bernilai multijutaan dolar di perusahaannya dua bulan sebelum usaha tersebut diluncurkan, dan itu sama sekali tidak mengganggunya. Mengapa? Karena ia dan timnya menuai manfaat dari Hukum Kompas.

8. HUKUM APEL BUSUK
Sikap-sikap Busuk Merusak Tim
Mereka diharapkan menghancurkan persaingan. Mereka memiliki bakat serta ambisi untuk meraih kemenangan. Tetapi bukannya mendominasi, mereka malah merusak diri. Seandainya saja mereka tahu tentang Hukum Apel Busuk.

9. HUKUM KETERANDALAN

Rekan-rekan Satu Tim Harus Dapat Saling Mengandalkan Satu Sama Lain Dalam Soal-soal Penting
Mungkin orang takkan mati di organisasi Anda kalau seseorang menjatuhkan bolanya. Tetapi itu bisa terjadi pada orang-orang dalam bisnis keluarga ini. Itulah sebabnya Hukum Keterandalan ini demikian penting bagi mereka.

10. HUKUM BANDROL HARGA
Tim akan Gagal Mencapai Potensinya Kalau Tidak Membayar Harganya
Perusahaan ini seharusnya dapat menjadi pengecer terbesar di dunia. Ternyata perusahaan ini malah terpaksa menutup usahanya setelah 128 tahun berbisnis. Mengapa? Para pemimpinnya harus menanggung ganjaran akibat mengabaikan Hukum Bandrol Harga.

11. HUKUM PAPAN ANGKA
Tim Bisa Melakukan Penyesuaian Kalau Tahu Posisinya
Ribuan perusahaan berbasis Internet telah gagal. Banyak perusahaan yang "sukses" masih menunggu untuk membukukan keuntungan. Tetapi perusahaan yang satu ini terus menang dan tumbuh serta meraih keuntungan! Mengapa? Karena sedari awal perusahaan ini bermain menurut Hukum Papan Angka.

12. HUKUM PEMAIN CADANGAN
Tim-tim Hebat Memiliki Kedalaman
Siapakah yang biasanya menjadi Pemain Paling Berharga dalam sebuah organisasi? Direktur Utamanya? Pimpinan Puncaknya? Pramuniaga topnya? Percayakah Anda bahwa mungkin saja itu adalah seseorang dari Sumber Daya Manusia? Anda akan percaya kalau saja Anda tahu Hukum Pemain Cadangan.

13. HUKUM IDENTITAS

Yang Mengidentifikasikan Tim adalah Nilai-nilai yang Dijunjung Bersama
Bagaimanakah Anda membuat ribuan orang bersemangat bekerja di gudang- gudang, mengenakan seragam berwarna cerah, dan memenuhi setiap kebutuhan konsumen? Bernie Marcus dan Arthur Blank melakukannya dengan membangun landasan perusahaan mereka pada Hukum Identitas.

14. HUKUM KOMUNIKASI
Interaksi Mendorong Diambilnya Tindakan
Tim mereka telah sepuluh kali ganti pemimpin dalam kurun waktu sepuluh tahun. Para karyawannya kelelahan serta penuh dengan kepahitan, dan perusahaannya terus kehabisan uang. Jadi bagaimanakah Gordon Bethune akan menyelamatkan penerbangan yang paling ketinggalan ini dari kehancuran? Ia mulai dengan menggunakan Hukum Komunikasi.

15. HUKUM KEUNGGULAN

Perbedaan Antara Dua Tim yang Sama Berbakatnya adalah Kepemimpinannya
Tim mereka mengalami masalah besar. Para pesertanya memiliki segalanya yang mereka butuhkan untuk meraih sukses -- bakat, dukungan, sumber- sumber daya -- segalanya, kecuali hal yang paling penting. Satu- satunya harapan mereka untuk mengubah segalanya adalah seseorang yang memenuhi Hukum Keunggulan.

16. HUKUM MORAL YANG TINGGI

Kalau Anda Menang, Sakitnya Tak Terasa
Apakah yang mendorong seorang pria berusia lima puluh tahun, yang bahkan berenang saja tidak bisa, untuk terus berlatih demi mengikuti lomba triatlon yang paling berat di dunia? Bukan, bukan karena krisis paruh baya. Melainkan karena Hukum Moral yang Tinggi.

17. HUKUM HASIL INVESTASI

Investasi dalam Tim akan Berkembang dengan Berjalannya Waktu
Pernahkah Anda tertipu untuk menerima sebuah pekerjaan? Morgan Wootten mengalaminya, dan akibatnya, ia telah mengubah kehidupan ribuan anak. Kehidupannya yang diwarnai dengan sikap memberi akan mengajari Anda segalanya yang perlu Anda ketahui tentang Hukum Hasil Investasi.

Stay Cool in http://newmasgun.blogspot.com

Baca Juga :
- Leadership : menciptakan Perubahan positif
- Leadership : Nilai Integritas Dalam Kepemimpinan
- Skala prioritas dalam kepemimpinan
- Hukum Kerjsama Tim Yang Efektif
- Leadership : Kekuatan Pengaruh Pemimpin
- Leadership: Kerjasama Tim
- Leadership: Pengantar komunikasi

- Manajemen Konflik dan kerjasama Tim
- Leadership : Pemecahan Masalah



Leadership : Kekuatan Pengaruh Pemimpin


Setiap orang adalah pemimpin dan inti dari kepemimpinan selain dari komunikasi dan pengakuan adalah pengaruh, seberapa berpengaruhnya seseorang untuk mendapat pengikut. Komunikasi yang efektif akan menuntun pada pengakuan dan pada gilirannya nanti akan sampai pada pengaruh. Para ahli sosiologi mengatakan bahwa orang yang paling tertutup sekalipun akan bisa mempengaruhi sepuluh ribu orang lainnya dalam masa hidupnya walaupun pada kenyataannya kita tidak pernah tahu siapa saja dan seberapa banyak orang – orang yang telah bisa kita pengaruhi. Hal terpenting yang harus kita ingat adalah bukan hanya apakah kita bisa mempengaruhi seseorang atau tidak tetapi pengaruh macam apa yang telah kita lakukan terhadap orang tersebut.

Kepemimpinan dan pengaruh merupakan potensi yang dapat dikembangkan melalui berbagai proses. Tingkat kepemimpinan yang awal sekali adalah kedudukan yang sering diperoleh karena pengangkatan dan pada tingkat ini memiliki berbagai kewenangan yang sering menimbulkan rasa aman bagi pemiliknya padahal selain kewenangan hal yang harus di ciptakannya adalah bagaimana menjadi pemimpin yang diikuti orang lain dengan senang hati dan penuh keyakinan. Pemimpin dalam tingkat ini sering kesulitan bekerja dengan sukarelawan, pekerja professional yang terbiasa ikut dalam proses pembuatan keputusan dan para pemuda. Hal ini akan terlihat saat kita sudah tidak memiliki kedudukan tersebut karena ternyata hanya sedikit saja orang yang benar – benar mengikuti kita. Setiap pemimpin dalam tingkat ini untuk mecapai sukses harus mengetahui deskripsi kerja,sejarah organisasi,memiliki tanggung jawab,keunggulan dalam pengetahuan dan gagasan kreatif serta lakukan pekerjaan lebih dari yang diharapkan.

Tingkat selanjutnya setelah kedudukan adalah tingkat izin, yang lebih menekankan pada menjaga hubungan yang baik dengan seluruh komponen yang berorientasikan pengembangan individu – individu yang terlibat. Pada tingkat ini dibutuhkan kebijaksanaan, interaksi yang baik dan cinta yang tulus yang melebihi dari prosedur yang ada sehinggga pada akhirnya akan membuat sukses juga orang yang mengikuti kita. Sukses pada tingkat izin merupakan fondasi yang akan mempermudah dalam tingkat produksi yang berorientasi pada hasil dari semua kegiatan yang dilakukannya.

Selanjutnya tingkat Pengembangan manusia merupakan aset dan prioritas yang harus dikembangkan oleh seorang pemimpin yang dilakukan melalui teladan, pembelajaran, kemampuan untuk menarik pemenang/penghasil lain ketujuan bersama, kaderisasi sehingga akhirnya akan mengembangkan dan meningkatkan kemampuan dari para anggota untuk mencapai tujuan. Pengikut akan memiliki loyalitas karena pemimpin bisa merebut hatinya dengan membantu mereka tumbuh secara pribadi.

Tingkat ini akan berkembang menjadi kemampuan menguasai pribadi yang akan membuahkan hasil loyalitas dan kemauan berkorban dari pengikut karena selama bertahun – tahun kita sudah membimbing dan mencetak mereka sebagai para pemimpin baru. Sehingga kebahagiaan terbesar kita adalah ketika kita sukses membuat orang lain tumbuh dan berkembang menjadi sukses juga. Hal yang paling penting sekarang adalah untuk menghetahui berada diposisi mana kita pada saat ini dan lakukan hal – hal yang bisa membuat kita mejadi pemimpin yang sukses ditiap tingkat.

Stay Cool in http://newmasgun.blogspot.com

Baca Juga :
- Leadership : menciptakan Perubahan positif
- Leadership : Nilai Integritas Dalam Kepemimpinan
- Skala prioritas dalam kepemimpinan
- Hukum Kerjsama Tim Yang Efektif
- Leadership : Kekuatan Pengaruh Pemimpin
- Leadership: Kerjasama Tim
- Leadership: Pengantar komunikasi

- Manajemen Konflik dan kerjasama Tim
- Leadership : Pemecahan Masalah


Jumat, 05 November 2010

Leadership : Kerjasama Tim


Patut dipahami bahwa membentuk sebuah tim kerja yang solid merupakan hal yang sangat sulit. Kesulitan tersebut didasari oleh kenyataan bahwa di dalam tim tersebut terdapat banyak kepala dengan banyak gagasan dan pendapat yang berbeda-beda. Dan untuk menyatukannya bukanlah hal yang mudah.

Untuk mencapai keharmonisan dan penyatuan yang solid, setiap individu harus memiliki keterampilan dasar yang diperlukan untuk bekerja secara tim. Secara garis besar, ada dua keterampilan utama yang mutlak harus dimiliki anggota tim, yaitu:

- Kemampuan Mengelola (Managerial Skills)
Kemampuan mengatur dan mengelola potensi diri sendiri, serta kemampuan untuk melakukan koordinasi dengan sesama anggota tim. Termasuk di dalamnya kemampuan dalam membuat rencana kerja, memonitor perkembangan dan memastikan pekerjaan telah dilakukan secara benar, dll.

- Keterampilan Interpersonal (Interpersonal Skills)
Merupakan keterampilan melakukan kontak sosial dengan seluruh individu di dalam kelompok. Termasuk kemampuan untuk berkomunikasi, saling menghargai pendapat orang lain dan kemampuan menjaga kekompakan dengan anggota tim.

Tiga hambatan utama yang umum ditemui dalam bekerja sama, yakni:

1. Ketidaktahuan
Selain memahami deskripsi pekerjaan, kita pun perlu mengetahui sejumlah hal lain. Misalnya saja aturan tertulis dan tidak tertulis dalam tim, karakter tiap anggota dan lain sebagainya. Bila kita tidak tahu, maka kita akan bekerja berdasarkan keyakinan yang belum tentu benar.

2. Aliansi
Bila kita masuk kedalam tim yang sudah solid atau sebelumnya sudah saling mengenal, wajar bila di antara mereka sudah terbentuk semacam aliansi. Kita akan merasa tersisih biala masuk ke dalam lingkungan mereka. Akan tetapi karena harus bekerja sama, maka anda harus dapat menerima aliansi tersebut. Caranya adalah dengan mengikuti arus dan berbaur tanpa kehilangan prinsip-prinsip dasar. Kalaupun tidak bisa dekat seperti sahabat, minimal dapatkan kondisi yang nyaman untuk bekerja sama.

3. Prasangka Buruk

Walaupun kita diciptakan sama, kita tidak selalu diperlakukan sejajar. Bila kita berprasangka buruk, muncul penghalang psikologis yang membuat kerja sama tidak efektif. Maka, jaga prasangka baik terhadap orang lain kecuali terbukti sebaliknya.

Sumber: Sukses dengan Soft Skills
Stay cool in http://newmasgun.blogspot.com

Baca Juga :
- Leadership : menciptakan Perubahan positif
- Leadership : Nilai Integritas Dalam Kepemimpinan
- Skala prioritas dalam kepemimpinan
- Hukum Kerjsama Tim Yang Efektif
- Leadership : Kekuatan Pengaruh Pemimpin
- Leadership: Kerjasama Tim
- Leadership: Pengantar komunikasi

- Manajemen Konflik dan kerjasama Tim
- Leadership : Pemecahan Masalah


Leadership : Pengantar Komunikasi


Komunikasi adalah interaksi antara dua orang atau lebih untuk saling bertukar informasi. Komunikasi terbagi menjadi dua, yaitu komunikasi lisan dan komunikasi tertulis.

1. Komunikasi Lisan
Komunikasi Lisan sudah sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari kita. Namun terkadang dalam penyampaian atau penerimaan informasi melalui komunikasi lisan ini masih sering terdapat kesalahan-kesalahan (miss comunication). Oleh karena itu dibutuhkan informasi seakurat mungkin agar dapatmenyampaikan maksud dengan jelas sekaligus dapat menangkap apa yang dimaksudkan orang lain.

Berdasarkan lawan bicara, komunikasi lisan dapat di bagi menjadi:
- Komunikasi personal (one on one)
- Presentasi
- Diskusi grup (Group Discussion)

2. Komunikasi Tertulis

Apa yang akan terjadi bila seseorang menyampaikan pada anda 20 instruksi sekaligus ? Besar kemungkinan akan terjadi salah paham atau ada yang terlupa. Fungsi dari komunikasi tertulis ini adalah untuk meminimalkan peluang terjadinya salah paham.
Tujuan dari komunikasi tertulis sama seperti komunikasi secara lisan, yakni menyampaikan suatu maksud (informasi) pada pihak lain.

Berikut adalah sejumlah tips untuk melakukan komunikasi yang baik :
- Sampaikan dengan Padat dan Jelas
Salah satu kebiasaan mahasiswa adalah memperpanjang tulisan dengan tujuan mempertebal makalah agar mendapatkan nilai bagus. Dalam dunia nyata, klien atau rekan kerja tidak mempunyai waktu untuk membaca tulisan yang bertele-tele. Yang dibutuhkan adalah penyampaian secara padat dan jelas.

- Hilangkan ketidaksukaan
Bisa saja Anda tidak menyukai atau malas mengerjakan suatu tugas. Tapi ketika hal itu sudah dibebankan kepada anda, maka anda harus bertanggung jawab untuk menanganinya. Belajarlah untuk bersikap profesional.

- Gunakan Bentuk Poin dan Penekanan

Menyampaikan informasi dalam bentuk poin, sangat membantu pembaca untuk menangkap inti informasi. Bila ada informasi yang perlu ditekankan, beri gaya berbeda. Misal hurufnya ditebalkan, digarisbawahi dan sebagainya.

- Jadilah editor yang Mandiri
Periksa kembali tulisan anda agar tidak terdapat kesalahan penulisan sehingga mengakibatkan salah pengertian dalam tulisan anda.

- Familiar dengan Teknologi
Pada masa sekarang, mesin tik dan tulisan tangan digunakan secara terbatas saja. Penyampaian informasi pun dapat dilakukan lewat surat elektronik (E-mail). Umumnya orang-orang menggunakan alat bantu teknologi yang sudah semakin canggih. Anda sewajarnya sudah familiar dengan hal-hal seperti Microsoft Office dan E-mail. Oleh karena itu anda harus dapat mengoptimalkan kegunaan funsi-fungsi yang ada pada teknologi tersebut.

Sumber: Sukses dengan Soft Skills
Stay cool in http://newmasgun.blogspot.com

Baca juga :
- Leadership : menciptakan Perubahan positif
- Leadership : Nilai Integritas Dalam Kepemimpinan
- Skala prioritas dalam kepemimpinan
- Hukum Kerjsama Tim Yang Efektif
- Leadership : Kekuatan Pengaruh Pemimpin
- Leadership: Kerjasama Tim
- Leadership: Pengantar komunikasi

- Manajemen Konflik dan kerjasama Tim
- Leadership : Pemecahan Masalah


Rabu, 03 November 2010

Maaf, Lamaranmu Saya Tolak


Lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya. Melalui ta’aruf yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk melanjutkannya menuju khitbah.

Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain yaitu ayah sang perempuan. Dan ini, tantangan yang sesungguhnya. Ia telah melewati deru pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang sekarang amatlah berbeda.

Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka menggenapkan agamanya. Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya, untuk ‘merebut’ sang perempuan muda, dari sisinya.

“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang setengah baya.
“Iya, Pak,” jawab sang muda.

“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? ” tanya sang setengah baya sambil menunjuk si perempuan.

“Ya Pak, sangat mengenalnya, ” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.

“Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya. Tidak bisa. Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model seperti itu!” balas sang setengah baya.

Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu.”

Lamaranmu kutolak. Itu serasa ‘membeli kucing dalam karung’ kan, aku tak mau kau akan gampang menceraikannya karena kau tak mengenalnya. Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya, keras.

Ini situasi yang sulit. Sang perempuan muda mencoba membantu sang lelaki muda.
Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”
“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.
“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi anti Orba di Kampus,” jawab sang muda, percaya diri.

“Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo rumahku ini kan?

“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuma kecil-kecilan. Banyak yang nggak datang kalau saya suruh berangkat.”

“Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur keluargamu ?”

Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”
“Kamu lulusan mana?”
“Saya lulusan Teknik Informatika Pak. ST.xxxxx itu salah satu kampus terbaik di Indonesia lho Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM ini tho?
Menganggap saya bodoh kan?”

“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya saja tujuh tahun, IPnya juga cuma dua koma Pak.”

“Lha lamaranmu ya kutolak. Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik anak-anakmu kelak?”

Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”
“Jadi kamu sudah bekerja?”
“Iya Pak. Saya bekerja sebagai marketing. Keliling Jawa dan Sumatera jualan produk saya Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu.”

“Anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku.”
Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja nggak becus begitu?”

Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”
“Rencananya maharmu apa?”
Seperangkat alat shalat Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf.”

“Tapi saya siapkan juga emas seratus gram dan uang limapuluh juta Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”

Bisikan, “Dia jago IT lho Pak”
“Kamu bisa apa itu, internet?”
“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net.”

“Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok. Menghabiskan anggaran untuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”

“Tapi saya ngenet cuma ngecek email saja kok Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Blog, Twitter, Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu.”

Bisikan, “Tapi Ayah…”
“Kamu kesini tadi naik apa?”
“Mobil Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya Riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.”

“Anu saya cuma mbonceng mobilnya teman kok Pak. Saya nggak bisa nyetir”
“Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin istrimu juga? Ini namanya payah. Memangnya anakku supir?”

Bisikan, “Ayahh..”
“Kamu merasa ganteng ya?”
“Nggak Pak. Biasa saja kok”
“Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik ini.”

“Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir kok Pak.”

“Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”
Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayah, tak bisakah engkau tanyakan soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”

Sang setengah baya menatap wajah sang anak, dan berganti menatap sang muda yang sudah menyerah pasrah.

“Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur’an dan Hadits?”

Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga. Pun pada pokok soal ini ia menyerah, jawabnya, “Pak, dari tiga puluh juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja. Hadits-pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”

Sang setengah baya tersenyum, “Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku masih tertatih.”

Mata sang muda pun ikut berkaca-kaca.

Sahabat, ndak ada yang bisa saya kata - katakan lagi dari cerita diatas selain berjuanglah....... dan jangan lupa hapalin juz 30 ya he...he...

Special thanks to Syaikhul_Muqorrobin@JKT dan Milis Al-Ikhwan
Stay cool in http://newmasgun.blogspot.com

Baca juga :
- Jangan Takut Jadi Orang Aneh
- Kisah Hikmah : Suami Berhati malaikat
- kamu Milikku Yang Paling Berharga
- Karena Kita Tak Boleh Berpisah
- Email Cinta Dari Rasulullah
- Kulihat Binar Cinta DiMatamu






Senin, 01 November 2010

Air Mata Penuntun ke Surga


Sahabat, dua ilmuwan pernah melakukan penelitian disertasi tentang air mata. Kedua peneliti tersebut berasal dari Jerman dan Amerika Serikat. Hasil penelitian kedua peneliti itu menyimpulkan bahwa air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabe berbeda dengan air mata yang mengalir karena kecewa dan sedih.

Air mata yang keluar karena tepercik bawang atau cabe ternyata tidak mengandung zat yang berbahaya. Sedangkan, air mata yang mengalir karena rasa kecewa atau sedih disimpulkan mengandung toksin, atau racun. Kedua peneliti itu pun merekomendasikan agar orang-orang yang mengalami rasa kecewa dan sedih lebih baik menumpahkan air matanya. Sebab, jika air mata kesedihan atau kekecewaan itu tidak dikeluarkan, akan berdampak buruk bagi kesehatan lambung.

Menangis itu indah, sehat, dan simbol kejujuran. Pada saat yang tepat, menangislah sepuas-puasnya dan nikmatilah karena tidak selamanya orang bisa menangis. Orang-orang yang suka menangis sering kali dilabeli sebagai orang cengeng. Cengeng terhadap Sang Khalik adalah positif dan cengeng terhadap makhluk adalah negatif.

Orang-orang yang gampang berderai air matanya ketika terharu mengingat dan merindukan Tuhannya, air mata itu akan melicinkannya menembus surga. Air mata yang tumpah karena menangisi dosa masa masa lalu akan memadamkan api neraka.

Hal ini sesuai dengan hadis Nabi, "Ada mata yang diharamkan masuk neraka, yaitu mata yang tidak tidur semalaman dalam perjuangan fisabilillah dan mata yang menangis karena takut kepada Allah."

Seorang sufi pernah mengatakan, jika seseorang tidak pernah menangis, dikhawatirkan hatinya gersang. Salah satu kebiasaan para sufi ialah menangis. Beberapa sufi mata dan mukanya menjadi cacat karena air mata yang selalu berderai.

Tuhan memuji orang menangis. "Dan, mereka menyungkurkan wajah sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk." (QS Al-Isra' [17]:109). Nabi Muhammad SAW juga pernah berpesan, "Jika kalian hendak selamat, jagalah lidahmu dan tangisilah dosa-dosamu."

Ciri-ciri orang yang beruntung ialah ketika mereka hadir di bumi langsung menangis, sementara orang-orang di sekitarnya tertawa dengan penuh kegembiraan. Jika meninggal dunia ia tersenyum, sementara orang-orang di sekitarnya menangis karena sedih ditinggalkan.

Tampaknya, kita perlu membayangkan ketika nanti meninggal dunia, apakah akan lebih banyak orang mengiringi kepergian kita dengan tangis kesedihan atau dengan tawa kegembiraan.

Jika air mata kerinduan terhadap Tuhan tidak pernah lagi terurai, apalagi jika air mata selalu kering di atas tumpukan dosa dan maksiat, kita perlu segera melakukan introspeksi. Apakah mata kita sudah mulai bersahabat dengan surga atau neraka.

Sumber : Republika online
Stay cool in http://newmasgun.blogspot.com

Baca juga :
- sabahat, Menangislah karena Allah
- Resep cinta menjadi kekasih Allah
- kado terindah buat sahabat
- Senyum manis kasih sayang
- Poligami : Puisi cinta sang suami