Kamis, 31 Maret 2011

Leadership: Karakteristik Tim Pemenang



Gambaran sebuah tim yang akan menjadi pemenang yaitu :

1. Punya pemimping besar.

Segala hal naik dan turun karena pemimpin. Kita bisa memaksa dan membujuk mereka. Membujuk memerlukan pengertian tentang apa yang membuat orang lain bersemangat dan apa yang memotivasi mereka. Kalau kita memahami apa yang memotivasi orang lain, kita menguasai alat yang paling ampuh untuk berurusan dengan mereka. Pemimpin yang baik akan memperhatikan hal – hal berikut :
- Pemimpin yang baik akan menciptakan lingkungan yang tepat.
- Pemimpin yang baik mengetahui kebutuhan dasar manusia.
- Pemimpin yang baik tetap mengendalikan “ 3 besar “ yaitu keuangan, personalia dan perencanaan.
- Pemimpin yang baik menghindari “ tujuh dosa yang mematikan “, yaitu
a. berusaha untuk disukai dan bukan dihormati.
b. Tidak minta nasihat dan bantuan kepada anggota tim.
c. Mengesampingkan bakat pribadi dengan menekankan peraturan bukannya keahlian.
d. Tidak menjaga agar kritik tetap konstruktif.
e. Tidak mengembangkan rasa tanggung jawab dalam diri anggota tim.
f. Memperlakukan setiap orang dengan cara yang sama.
g. Tidak membuat setiap orang selalu mendapat informasi.

Banyak cara untuk menghindari kesalah,tetapi cara yang paling baik untuk mengelak dari bencana adalah membuat diri kita selalu bisa dihubungi agar rekan kita bias selalu memberikan informasi dan kalau kita memiliki semua informasi maka kita akan merupakan bagian dari keputusan walaupun kita tidak membuat setiap keputusan.

2. Memilih orang – orang yang baik.
Bobb biehl mengatakan bahwa 60 sampai 80 persen sukses perusahaan atau organisasi diperoleh berkat tiga faktor yaitu pengarahan yang jelas, tim pemain yang tepat dan keuangan yang kuat. Itulah sebabnya maka tidak banyak hal yang sama pentingnya dengan menaruh orang yang tepat ditempat yang tepat.
Ada lima prinsip untuk memilih orang yang akan membantu anda mendapatkan calon terbaik sebagai anggota tim, yaitu :
a. Semakin kecil organisasi, semakin penting pemilihan kerja.
b. Ketahuilah jenis orang apa yang anda perlukan (persyaratan pribadi).
c. Mengetahui apa yang diperlukan oleh pekerjaan.
d. Mengetahui pa yang diinginkan oleh calon anggota staf.
e. Kalau anda tidak mampu mempekerjakan yang terbaik, pekerjakan orang muda yang akan menjadi yang terbaik.

3. Bermain untuk menang.
Perbedaan antara bermain untuk menang dan bermain untuk tidak kalah merupakan perbedaan antara sukses dan mutu rendah.
Kita harus mengambil resiko, membuat keputusan yang sulit, hidup menantang bahaya dan membuat perbedaan. Orang yang selalu mencari amannya saja melewatkan kesempatan dan jarang membuat kemajuan.

4. Membuat anggota tim lainnya lebih sukses.
Ada beberapa cara penting yang harus diambil untuk membina tim secara lebih baik, yaitu :
- Mengetahui kunci menuju setiap pemain.
- Memetakan misi tim.
- Menetapkan peranan setiap pemain.
- Menciptakan identitas kelompok.
- Menggunakan dosis berlebihan penggunaan kata “kita” dan “milik kita” untuk menciptakan rasa kepemilikan.
- Berkomunikasi dengan setiap orang.

5. Terus membuat peningkatan.
Begitu sebuah organisasi berhenti membuat peningkatan maka organisasi tersebut habis.

Sukses berkesinambungan merupakan hasil dari peningkatan terus menerus. Oleh karena itu perlunya sebuah pelatihan yang berguna untuk menetapkan tujuan yang lebih spesifik dan melangsungkan peninjauan kemajuan sesering mungkin. Tujuan harus memberikan spesifikasi hasil akhir, batas pencapaian tepat sebagaimana yang diharapkan dan harus dikaitkan dengan jadwal waktu.

Peninjauan kemajuan yang sering dilakukan akan mencapai tiga hal :
- Sebagai sarana untuk mengingatkan terus menerus bahwa mencapai tujuan penting bagi karir seseorang.
- Peninjauan memberikan kesempatan untuk mengetahui gerakan positif kearah tujuan.
- Peninjauan menjadi sarana untuk memecahkan masalah yang terjadi.

Kalau kita secara semestinya harus memecat seseorang dari kedudukannya tempat dia membuat kegagalan maka kita sebenarnya membebaskannya dari kegagalan itu dan membebaskannya untuk mencari kedudukan tempat dia dapat menemukan kesuksesan.

Stay cool in : http://newmasgun.blogspot.com







Senin, 28 Maret 2011

10 Racun Dalam Diri Kita

Racun dalam diri yang tak terasa dan kadang kurang terdeteksi dini.

Racun pertama : Menghindar
Gejalanya: Lari dari kenyataan, mengabaikan tanggung jawab, padahal dengan melarikan diri dari kenyataan, kita hanya akan mendapatkan kebahagiaan semu yang berlangsung sesaat.
Antibodinya: Realitas
Cara: Berhentilah menipu diri. Jangan terlalu serius dalam menghadapi masalah karena rumah sakit jiwa sudah dipenuhi pasien yang selalu mengikuti kesedihannya dan merasa lingkungannya menjadi sumber frustasi. Jadi, selesaikan setiap masalah yang dihadapi secara tuntas dan yakinilah bahwa segala sesuatu yang terbaik selalu harus diupayakan dengan keras.

Racun kedua : Ketakutan

Gejalanya: Tidak yakin diri, tegang, cemas yang antara lain bisa disebabkan kesulitan keuangan, konflik perkawinan, problem seksual, dll.
Antibodinya: Keberanian
Cara: Hindari menjadi sosok yang bergantung pada kecemasan. Ingatlah, 99 persen hal yang kita cemaskan tidak pernah terjadi. Keberanian adalah pertahanan diri paling ampuh. Gunakan analisis intelektual dan carilah solusi masalah melalui sikap mental yang benar. Keberanian merupakan proses reedukasi. Jadi, jangan segan mencari bantuan dari ahlinya, seperti psikiater atau psikolog.

Racun ketiga : Egoistis
Gejalanya: Materialistis, agresif, lebih suka meminta daripada memberi.
Antibodinya: Bersikap sosial
Cara: Jangan mengeksploitasi teman. Kebahagiaan akan diperoleh apabila kita dapat menolong orang lain. Perlu diketahui, orang yang tidak mengharapkan apapun dari orang lain adalah orang yang tidak pernah merasa dikecewakan.

Racun keempat : Stagnasi
Gejalanya: Berhenti satu fase, membuat diri kita merasa jenuh, bosan, dan tidak bahagia.
Antibodinya: Ambisi
Cara: Teruslah berkembang, artinya kita terus berambisi di masa depan kita. Kita kan menemukan kebahagiaan dalam gairah saat meraih ambisi kita tersebut.

Racun kelima : Rasa rendah diri

Gejalanya: Kehilangan keyakinan diri dan kepercayaan diri serta merasa tidak memiliki kemampuan bersaing.
Antibodinya: Keyakinan diri
Cara: Seseorang tidak akan menang bila sebelum berperang, yakin dirinya akan kalah. Bila kita yakin akan kemampuan kita, sebenarnya kita sudah mendapatkan separuh dari target yang ingin kita raih. Jadi, sukses berawal pada saat kita yakin bahwa kita mampu mencapainya.

Racun keenam : Narsistik
Gejalanya: Kompleks superioritas, terlampau sombong, kebanggaan diri palsu.
Antibodinya: Rendah hati
Cara: Orang yang sombong akan dengan mudah kehilangan teman, karena tanpa kehadiran teman, kita tidak akan bahagia. Hindari sikap sok tahu. Dengan rendah hati, kita akan dengan sendirinya mau mendengar orang lain sehingga peluang 50 persen sukses sudah kita raih.

Racun ketujuh : Mengasihani diri
Gejalanya: Kebiasaan menarik perhatian, suasana yang dominan, murung, merasa menjadi orang termalang di dunia.
Antibodinya: Sublimasi
Cara: Jangan membuat diri menjadi neurotik, terpaku pada diri sendiri. Lupakan masalah diri dan hindari untuk berperilaku sentimentil dan terobsesi terhadap ketergantungan kepada orang lain..

Racun kedelapan : Sikap bermalas-malasan

Gejalanya: Apatis, jenuh berlanjut, melamun, dan menghabiskan waktu dengan cara tidak produktif, merasa kesepian.
Antibodinya: Kerja
Cara: Buatlah diri kita untuk selalu mengikuti jadwal kerja yang sudah kita rencanakan sebelumnya dengan cara aktif bekerja. Hindari kecenderungan untuk membuat keberadaaan kita menjadi tidak berarti dan mengeluh tanpa henti.

Racun kesembilan : Sikap tidak toleran

Gejalanya: Pikiran picik, kebencian rasial yang picik, angkuh, antagonisme terhadap agama tertentu, prasangka religius.
Antibodinya: Kontrol diri
Cara: Tenangkan emosi kita melalui seni mengontrol diri. Amati mereka secara intelektual. Tingkatkan kadar toleransi kita. Ingat bahwa dunia diciptakan dan tercipta dengan keberagaman kultur dan agama.

Racun kesepuluh : Kebencian

Gejalanya: Keinginan balas dendam, kejam, bengis.
Antibodinya: Cinta kasih
Cara: Hilangkan rasa benci. Belajar memaafkan dan melupakan. Kebencian merupakan salah satu emosi negatif yang menjadi dasar dari rasa ketidakbahagiaan. Orang yang memiliki rasa benci biasanya juga membenci dirinya sendiri karena membenci orang lain. Satu-satunya yang dapat melenyapkan rasa benci adalah cinta. Cinta kasih merupakan kekuatan hakiki yang dapat dimiliki setiap orang.

Special thanks to forum tetangga
Stay cool in http://newmasgun.blogspot.com




Sabtu, 26 Maret 2011

Socrates : Kebenaran, Kebaikan dan Kegunaan



Di Yunani kuno, Socrates terkenal memiliki pengetahuan yang tinggi dan sangat terhormat.

Suatu hari seorang kenalannya bertemu denga filsuf besar itu dan berkata, "Tahukah Anda apa yang saya dengar tentang teman Anda?"

"Tunggu sebentar," Socrates menjawab. "Sebelum Anda menceritakan apapun pada saya, saya akan memberikan suatu test sederhana yang disebut Triple Filter Test.

Filter petama adalah KEBENARAN.

"Apakah Anda yakin bahwa apa yang akan Anda katakan pada saya itu benar?"

"Tidak," jawab orang itu, "Sebenarnya saya HANYA MENDENGAR tentang itu."

"Baik," kata Socrates. "Jadi Anda tidak yakin itu benar. Baiklah sekarang saya berikan filter yang kedua.

Filter ke 2, KEBAIKAN.

Apakah yang akan Anda katakan tentang teman saya itu sesuatu yang baik?"

"Tidak, malah sebaliknya..."

"Jadi," Socrates melanjutkan, "Anda akan menceritakan sesuatu yang buruk tentang dia, tetapi Anda dan anda tidak yakin apakah itu benar. Anda masih

memiliki satu kesempatan lagi, masih ada satu filter lagi, yaitu filter ke 3.

Filter ke 3, KEGUNAAN.

Apakah yang akan Anda katakan pada saya tentang teman saya itu berguna bagi saya?"

"Tidak, sama sekali tidak."

"Jadi," Socrates menyimpulkannya, "bila Anda ingin menceritakan sesuatu yang belum tentu benar, bukan tentang kebaikan,dan bahkan tidak berguna, mengapa Anda harus menceritakan itu kepada saya?"

Itulah mengapa Socrates dianggap filsuf besar dan
sangat terhormat.

Kawan-kawan, gunakan triple filter test setiap kali Anda mendengar sesuatu tentang kawan anda. Jika bukan KEBENARAN, bukan KEBAIKAN, dan tidak ada KEGUNAAN positif, tidak perlu anda terima. Dan apabila anda terlanjur mendengarnya, jangan sampaikan, dan jangan menyakiti hati orang lain..


Special thank to Pramono Dewo
Stay cool in http://newmasgun.blogspot.com/




Selasa, 15 Maret 2011

Perbedaan Mendasar Orang Pintar dan Kaya



"Masalah di dunia ini terjadi ketika orang bodoh terlalu yakin dan orang pintar penuh dengan keraguan
"( Bertrand Russell )

Ternyata satu jam keterlambatan pesawat dari Balikpapan ke Jakarta tidaklah menyebalkan. Bahkan, kalau mau jujur, sejam itu terlalu singkat ketika kami mampu mengisinya dengan aktivitas yang menyenangkan. Diskusi gaya warung kopi yang tidak terstruktur tiba-tiba menjadi bergairah ketika saya, Nila dan Bugie menemukan satu fenomena antara orang yang pintar dan kaya. Kami bertiga tersentak, dan diskusi berlanjut dalam dunia maya sampai kami masuk ke dalam peraduan di rumah kami masing-masing.

Kesimpulan pertama yang kami ambil adalah membedakan antara orang kaya dan orang pintar secara contrary items. Setidaknya ada tujuh perbedaan yang mendasar, yaitu:

Pertama, orang pintar mampu menganalisis dan mengajar bagaimana menjadi kaya, membuat strategi untuk menjadi orang kaya karena ia belum bisa kaya. Adapun orang kaya itu pandai mencari orang pintar untuk menganalisis mengapa dia kaya.

Kedua, orang pintar pandai memberi jawaban untuk orang
kaya, sedangkan orang kaya pandai memberi pertanyaan buat orang pintar.

Ketiga, orang pintar dalam bahasa rekan saya, Nila, memiliki competence for cash, sedangkan orang kaya memiliki cash for competence.

Keempat, orang pintar memutuskan segala sesuatu dengan rasio. Decision by head dengan pemikiran dasar ”engke kumaha”, sedangkan orang kaya memutuskan banyak hal dengan guts dan intuisi. Decision by heart, dengan pemikiran dasar ”kumaha engke”.

Kelima, orang pintar memiliki kapital tak berwujud dengan harta yang sangat terbatas (intangible capital limited assets)
, sedangkan orang kaya memiliki kapital berwujud dengan harta tanpa batas (tangible capital unlimited assets).

Keenam, orang pintar itu menganalisis dengan masukannya (input) biaya – cost and benefit, sedangkan orang kaya memikirkan keluaran (output) berupa keuntungan – profit and loss.

Ketujuh, orang pintar sangat memperhitungan risiko, sedangkan orang kaya menghitung peluang.

Ketika kedua faktor itu digabungkan, hasilnya lebih mencengangkan saya. Sebuah matriks yang menarik untuk dikaji lebih dalam lagi. Dengan klasifikasi matriks ordinat kaya dan absis pintar, maka ada empat tipe manusia yang sangat berbeda satu dari yang lain dengan gaya hidup dan kontribusi yang bagai bumi dan langit, sangat jauh bedanya.

Pertama, manusia yang tidak pintar alias bodoh dan tidak kaya (= miskin).
Kita tidak perlu membahas karena memang tidak akan mendapatkan sesuatu pelajaran yang what to do, hanya sekelumit catatan what not to do. Ini adalah objek dari ketiga jenis manusia lain untuk dikembangkan agar masuk ke tiga kategori yang bisa berkontribusi buat masyarakat sekitar. Lebih sedih lagi kalau ada manusia yang sudah bodoh, miskin, tetapi sombong. Biasanya jadi tukang teriak di lapangan untuk program apa saja asal dapat bayaran dua puluh ribuan. Bagi yang jahat, ini sumber eksploitasi dan manipulasi.

Kedua, manusia yang pintar tetapi tidak kaya.

Artinya, ia memiliki kemampuan intelektual yang tinggi, tetapi tidak mampu mengonversinya menjadi tumpukan harta. Mungkin terkena sindrom teori mengawang dan tidak down to earth atau memang idealis sehingga materi bukan menjadi tujuan hidupnya. Kekuatan intelektual menjadi passion-nya dan yang dicari adalah kemapanan akademis dan menciptakan ilmu atau teori baru atau dalam bahasa rekan diskusi saya tadi, Bugie, kepuasannya adalah kalau ilmu dan gelarnya bertambah, bukan soal hartanya yang meningkat.

Ketiga, orang yang kaya tetapi tidak pintar.

Bisa karena kepemilikan alias punya the right last name alias warisan atau hoki tetapi tidak mampu menuangkan untuk membuat orang lain mendapat pencerahan. Dalam jangka pendek, keberuntungan memang bisa terjadi beberapa kali, tetapi tidak selamanya. Dalam jangka panjang bisa berbahaya kalau tidak mencoba mencari kepintaran dengan harta yang dia miliki.

Keempat, orang kaya dan pintar.
Ini yang paling ideal. Mampu menerangkan mengapa ia kaya dan mampu membagikan ilmunya bagi orang yang mau mempelajarinya. Ini yang akan sustain dalam jangka panjang. Kinerjanya akan menghasilkan keluaran yang berlipat ganda dibandingkan dengan ketiga yang lain. Jangan heran, yang keempat ini akan semakin kaya dan semakin pintar. Menguasai harta dan membuatnya beranak pinak secara asimptotis.

Manusia jenis keempat akhirnya akan memilih jalur pengusaha, bukan profesional. Manusia ini memiliki keberanian dan semangat yang membuat orang biasa menjadi terkagum-kagum, tetapi tidak merasa yang ia lakukan sesuatu yang aneh. Bill Gates dan Steve Jobs adalah orang pintar yang bukan lulusan sekolah formal, tetapi bisa menjadi orang kaya yang mempengaruhi dunia.

Chairul Tanjung adalah contoh manusia yang berusaha dari bawah dan mampu menjadi pintar dan kaya karena kegigihan yang luar biasa. T.P. Rachmat dan Sandiaga Uno adalah sosok profesional yang akhirnya jadi pengusaha. Karena pintar, keduanya jadi kaya. Segala jalur bisa ditempuh asal memiliki kemauan dan keberanian untuk jadi pintar di bidangnya, yang akhirnya berani melompati tembok kemapanan.

Mudah-mudahan bermanfaat buat sahabat semua.

Special thanks for the article to Paulus Bambang W.S
Stay Cool in http://newmasgun.blogspot.com

Rabu, 09 Maret 2011

Penyebab Kegagalan Orang Pintar



Sahabat, diakui ataupun tidak kita sering mendengar pertanyaan, "Mengapa ORANG PINTAR selalu menjadi nomor dua dan orang yang nomor satu adalah orang yang biasa – biasa saja atau berpendidikan yang lebih rendah ?"
Berikut ini ada beberapa hal yang bisa menjawab pertanyaan tersebut .

1. Terlalu banyak mengetahui tetapi tidak mempraktekkannya.

2. Tidak berani bertindak padahal didalam hatinya, : "Aku pasti bisa kalau aku mau".

Orang yang seperti ini adalah orang yang tidak pernah gagal karena dia tidak pernah mencoba.

3. Selalu merasa dirinya sudah pintar sehingga tidak mau menerima saran atau kritikan dari orang lain.

4. Ahli – ahli ekonomi atau bidang studi lainnya, selalu menggunakan rumusan yang sudah dibakukan, yang bisa saja sudah sudah kadaluarsa / expired atau tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini.

5. Tidak ingin lebih bodoh dari muridnya sehingga walaupun muridnya benar tetapi dianggapnya salah.
Logikanya, jika murid tidak lebih pintar dari gurunya berarti ilmu pengetahuan tidak akan berkembang.
"Anda boleh menjadi seorang ahli tetapi jangan berpikir seperti seorang ahli"

Diakui ataupun tidak hal diatas memang terbukti ya, he...he...
Mudah-mudahan manfaat.


Special thanks to Miss Yuldi Ais for the email.
Stay cool in http://newmasgun.blogspot.com

Senin, 07 Maret 2011

Membuka Pintu kebijaksanaan


Seorang Raja, mempunyai anak tunggal yg pemberani, trampil dan pintar. Untuk menyempurnakan pengetahuannya, ia mengirimnya kepada seorang pertapa bijaksana.

"Berikanlah pencerahan padaku tentang Jalan Hidupku" Sang Pangeran meminta.

"Kata-kataku akan memudar laksana jejak kakimu di atas pasir", ujar Pertapa."Saya akan berikan petunjuk padamu, di Jalan Hidupmu engkau akan menemui 3 pintu.

Bacalah kata-kata yang tertulis di setiap pintu dan ikuti kata hatimu.

Sekarang pergilah sang Pertapa menghilang dan Pangeran melanjutkan perjalanannya. Segera ia menemukan sebuah pintu besar yang di atasnya tertulis kata "UBAHLAH DUNIA"

"Ini memang yang kuinginkan" pikir sang Pangeran. "Karena di dunia ini ada hal-hal yang aku sukai dan ada pula hal-hal yang tak kusukai. Aku akan mengubahnya agar sesuai keinginanku"

Maka mulailah ia memulai pertarungannya yang pertama, yaitu mengubah dunia. Ambisi, cita-cita dan kekuatannya membantunya dalam usaha menaklukkan dunia agar sesuai hasratnya. Ia mendapatkan banyak kesenangan dalam usahanya tetapi hatinya tidak merasa damai. Walau sebagian berhasil diubahnya tetapi sebagian lainnya menentangnya.

Tahun demi tahun berlalu. Suatu hari, ia bertemu sang Pertapa kembali.

"Apa yang engkau pelajari dari Jalanmu ?" Tanya sang Pertapa

"Aku belajar bagaimana membedakan apa yang dapat klakukan dengan kekuatanku dan apa yang di luar kemampuanku, apa yang tergantung padaku dan apa yang tidak tergantung padaku" jawab Pangeran

"Bagus! Gunakan kekuatanmu sesuai kemampuanmu. Lupakan apa yang diluar kekuatanmu, apa yang engkau tak sanggup mengubahnya" dan sang Pertapa menghilang.

Tak lama kemudian, sang Pangeran tiba di Pintu kedua yang bertuliskan "UBAHLAH SESAMAMU"

"Ini memang keinginanku" pikirnya. "Orang-orang di sekitarku adalah sumber kesenangan, kebahagiaan, tetapi mereka juga yang mendatangkan derita, kepahitan dan frustrasi"

Dan kemudian ia mencoba mengubah semua orang yang tak disukainya. Ia mencoba mengubah karakter mereka dan menghilangkan kelemahan mereka.

Ini menjadi pertarungannya yang kedua.

Tahun-tahun berlalu, kembali ia bertemu sang Pertapa.

"Apa yang engkau pelajari kali ini?"

"Saya belajar, bahwa mereka bukanlah sumber dari kegembiraan atau kedukaanku, keberhasilan atau kegagalanku. Mereka hanya memberikan kesempatan agar hal-hal tersebut dapat muncul. Sebenarnya di dalam dirikulah segala hal tersebut berakar"

"Engkau benar" Kata sang Pertapa. "Apa yang mereka bangkitkan dari dirimu, sebenarnya mereka mengenalkan engkau pada dirimu sendiri.

Bersyukurlah pada mereka yang telah membuatmu senang & bahagia dan bersyukur pula pada mereka yang menyebabkan derita dan frustrasi.

Karena melalui mereka lah, Kehidupan mengajarkanmu apa yang perlu engkau kuasai dan jalan apa yang harus kau tempuh"

Kembali sang Pertapa menghilang.

Kini Pangeran sampai ke pintu ketiga "UBAHLAH DIRIMU"

"Jika memang diriku sendiri lah sumber dari segala problemku, memang disanalah aku harus mengubahnya". Ia berkata pada dirinya sendiri.

Dan ia memulai pertarungannya yang ketiga. Ia mencoba mengubah karakternya sendiri, melawan ketidak sempurnaannya, menghilangkan kelemahannya, mengubah segala hal yg tak ia sukai dari dirinya, yang tak sesuai dengan gambaran ideal.

Setelah beberapa tahun berusaha, dimana sebagian ia berhasil dan sebagian lagi gagal dan ada hambatan, Pangeran bertemu sang Pertapa kembali.

"Kini apa yang engkau pelajari ?"

"Aku belajar bahwa ada hal-hal di dalam diriku yang bisa ditingkatkan dan ada yang tidak bisa saya ubah"

"Itu bagus" ujar sang pertapa. "Ya" lanjut Pangeran, "tapi saya mulai lelah untuk bertarung melawan dunia, melawan setiap orang dan melawan diri sendiri. Tidakkah ada akhir dari semuai ini ? Kapan saya bisa tenang ? Saya ingin berhenti bertarung, ingin menyerah, ingin meninggalkan semua ini !"

"Itu adalah pelajaranmu berikutnya" ujar Pertapa. Tapi sebelum itu, balikkan punggungmu dan lihatlah Jalan yang telah engkau tempuh".

Dan ia pun menghilang.

Ketika melihat ke belakang, ia memandang Pintu Ketiga dari kejauhan dan melihat adanya tulisan di bagian belakangnya yang berbunyi "TERIMALAH DIRIMU".

Pangeran terkejut karena tidak melihat tulisan ini ketika melalui pintu tsb.

"Ketika seorang mulai bertarung, maka ia mulai menjadi buta" katanya pada dirinya sendiri.

Ia juga melihat, bertebaran di atas tanah, semua yang ia campakkan, kekurangannya, bayangannya, ketakutannya. Ia mulai menyadari bagaimana mengenali mereka, menerimanya dan mencintainya apa adanya.

Ia belajar mencintai dirinya sendiri dan tidak lagi membandingkan dirinya dengan orang lain, tanpa mengadili, tanpa mencerca dirinya sendiri.

Ia bertemu sang Pertapa, dan berkata "Aku belajar, bahwa membenci dan menolak sebagian dari diriku sendiri sama saja dengan mengutuk untuk tidak pernah berdamai dengan diri sendiri. Aku belajar untuk menerima diriku seutuhnya, secara total dan tanpa syarat."

"Bagus, itu adalah Pintu Pertama Kebijaksanaan" , ujar Pertapa. "Sekarang engkau boleh kembali ke Pintu Kedua"

Segera ia mencapai Pintu Kedua, yang tertulis di sisi belakangnya "TERIMALAH SESAMAMU"

Ia bisa melihat orang-orang di sekitarnya, mereka yang ia suka dan cintai, serta mereka yang ia benci. Mereka yang mendukungnya, juga mereka yang melawannya.

Tetapi yang mengherankannya, ia tidak lagi bisa melihat ketidaksempurnaan mereka, kekurangan mereka. Apa yang sebelumnya membuat ia malu dan berusaha mengubahnya.

Ia bertemu sang Pertapa kembali, "Aku belajar" ujarnya "Bahwa dengan berdamai dengan diriku, aku tak punya sesuatupun untuk dipersalahkan pada orang lain, tak sesuatupun yg perlu ditakutkan dari merela. Aku belajar untuk menerima dan mencintai mereka, apa adanya.

"Itu adalah Pintu Kedua Kebijaksanaan" ujar sang Pertapa, "Sekarang pergilah ke Pintu Pertama"

Dan di belakang Pintu Pertama, ia melihat tulisan "TERIMALAH DUNIA"

"Sungguh aneh" ujarnya pada dirinya sendiri "Mengapa saya tidak melihatnya sebelumnya". Ia melihat sekitarnya dan mengenali dunia yang sebelumnya berusaha ia taklukan dan ia ubah.

Sekarang ia terpesona dengan betapa cerah dan indahnya dunia. Dengan kesempurnaannya.

Tetapi, ini adalah dunia yang sama, apakah memang dunia yang berubah atau cara pandangnya?

Kembali ia bertemu dengan sang Pertapa : "Apa yang engkau pelajari sekarang ?"

"Aku belajar bahwa dunia sebenarnya adalah cermin dari jiwaku. Bahwa Jiwaku tidak melihat dunia melainkan melihat dirinya sendiri di dalam dunia. Ketika jiwaku senang, maka dunia pun menjadi tempat yang menyenangkan. Ketika jiwaku muram, maka dunia pun kelihatannya muram.

Dunia sendiri tidaklah menyenangkan atau muram. Ia ADA, itu saja.

Bukanlah dunia yang membuatku terganggu, melainkan ide yang aku lihat mengenainya. Aku belajar untuk menerimanya tanpa menghakimi, menerima seutuhnya, tanpa syarat.

"Itu Pintu Ketiga Kebijaksanaan" ujar sang Pertapa. "Sekarang engkau berdamai dengan dirimu, sesamamu dan dunia" Sang pertapa pun menghilang.

Sang pangeran merasakan aliran yang menyejukkan dari kedamaian, ketentraman, yang berlimpah merasuki dirinya. Ia merasa hening dan damai.

Special thanks to Mohamad Yunus, CHt, CPHR, MNLP
Stay cool in http://newmasgun.blogspot.com/